Iran mengklaim telah menembak jatuh sebuah jet tempur F/A-18 Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketegangan dan konflik yang melibatkan AS dan Israel. Teheran juga merilis sebuah video yang diklaim memperlihatkan pesawat tempur kehilangan ketinggian setelah terkena serangan di udara.
Press TV, media yang dikelola pemerintah Iran, mengunggah video tersebut di akun resminya di X. Dalam unggahan itu disebutkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan telah berhasil menargetkan jet tempur F-18 Amerika.
Namun, unggahan tersebut tidak menyertakan rincian mengenai lokasi kejadian, tingkat kerusakan pesawat, maupun nasib pilot AS. Rekaman yang beredar memperlihatkan sebuah pesawat dalam penerbangan sebelum tampak kilatan cahaya menghantamnya di udara. Setelah itu, pesawat terlihat tidak stabil dan meninggalkan jejak yang menyerupai asap, yang diklaim menunjukkan hilangnya kendali.
Keaslian video tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Pihak AS membantah klaim Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) melalui unggahan cek fakta di X pada Kamis (26/3/2026) menyatakan informasi bahwa IRGC menembak jatuh jet tempur F/A-18 AS di atas Chabahar adalah salah. CENTCOM menegaskan tidak ada pesawat tempur AS yang ditembak jatuh oleh Iran.
Penolakan serupa juga pernah disampaikan CENTCOM terhadap klaim Iran sebelumnya. Pekan lalu, media Iran dua kali mengklaim IRGC menembak jatuh jet tempur F-15 AS. CENTCOM menyatakan pasukan AS telah melakukan lebih dari 8.000 penerbangan tempur selama Operasi Epic Fury dan tidak ada pesawat tempur AS yang ditembak jatuh oleh Iran.
Selain itu, Iran juga mengklaim bertanggung jawab atas kerusakan pesawat tempur siluman F-35 AS yang melakukan pendaratan darurat di pangkalan Amerika di Timur Tengah setelah diduga terkena tembakan saat menjalankan misi di wilayah udara Iran. Pejabat AS mengonfirmasi insiden tersebut, menyebut pilot berhasil dievakuasi tepat waktu dan penyelidikan masih berlangsung. Namun, AS tidak secara pasti mengaitkan kejadian itu dengan tindakan musuh dalam seluruh pernyataan mereka.
Operasi Epic Fury merupakan kampanye pengeboman udara yang dipimpin AS dan diluncurkan pada 28 Februari bersamaan dengan upaya Israel. Operasi ini disebut bertujuan menurunkan kemampuan rudal, Angkatan Laut, jaringan proksi, serta infrastruktur terkait nuklir Iran. Hampir sebulan setelah perang dimulai, pemerintahan Presiden Donald Trump menyerukan gencatan senjata, tetapi proposal itu ditolak Teheran.
Gedung Putih menyatakan pada Rabu bahwa AS masih melakukan pembicaraan dengan Iran meski Teheran dilaporkan menolak rencana AS untuk mengakhiri perang. Pemerintah AS juga memperingatkan Presiden Donald Trump siap mengambil langkah lebih keras jika tidak ada kesepakatan. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt membantah bahwa negosiasi dengan Iran telah menemui jalan buntu.

