Iklan Ramayana 2018 dan Lagu “Rice Cooker”: Jingle yang Melekat sekaligus Cermin Isu Sosial

Iklan Ramayana 2018 dan Lagu “Rice Cooker”: Jingle yang Melekat sekaligus Cermin Isu Sosial

Iklan Ramayana pada momen Lebaran 2018 menjadi salah satu materi promosi yang banyak dibicarakan publik. Bukan semata karena program diskon besar-besaran yang ditawarkan, melainkan karena elemen musik yang digunakan—terutama lagu “Rice Cooker” yang dibawakan dalam versi kasidah oleh sekelompok ibu-ibu—yang dinilai mudah melekat di ingatan.

Ramayana, atau PT Ramayana Lestari Sentosa, dikenal sebagai jaringan toko busana yang telah beroperasi sejak 1974. Dari awalnya toko fashion berskala kecil, Ramayana berkembang menjadi peritel yang lebih besar dan masih bertahan hingga kini. Dalam iklan Lebaran 2018 yang disutradarai Dimas Djay, Ramayana menempatkan lagu sebagai penggerak utama cerita sekaligus penguat identitas iklan.

Melalui lirik dan alur yang ditampilkan, iklan tersebut menggambarkan keseharian seorang anak yang bekerja keras dan kerap lembur. Tokoh utama digambarkan diliputi rasa bersalah karena hampir melupakan orang tuanya menjelang Lebaran. Di sisi lain, iklan juga menampilkan berbagai rintangan yang dihadapi pekerja perantau, termasuk pengalaman dipalak preman.

Di tengah cerita itu, lagu “Rice Cooker” menjadi penanda yang paling menonjol. Menurut narasi dalam tulisan asli, jingle yang mudah diingat membuat iklan ini terus dibicarakan dan bahkan diproduksi ulang oleh publik, sehingga nama Ramayana tetap muncul dalam percakapan masyarakat. Dalam konteks pemasaran, pendekatan tersebut dipandang sebagai strategi agar merek lebih mudah diingat.

Iklan ini juga dibaca sebagai upaya menampilkan isu sosial yang dekat dengan realitas sebagian orang, seperti beban ekonomi, tanggung jawab anak dalam keluarga, serta tantangan hidup perantau. Ramayana dalam iklan tersebut turut menegaskan posisinya sebagai toko busana dengan harga yang dinilai terjangkau dan relevan bagi pekerja yang ingin membeli pakaian, termasuk untuk hadiah Lebaran.

Selain isu ekonomi, tulisan asli juga menyinggung adanya stigma sosial terhadap Ramayana. Disebutkan, sebagian kalangan—termasuk anak muda—dianggap enggan berbelanja ke Ramayana karena label negatif, seperti anggapan bahwa Ramayana hanya untuk “bibi” atau kelas tertentu, serta stereotip yang mengaitkannya dengan kelompok ekonomi dan identitas tertentu. Narasi itu menilai stigma semacam ini masih kerap muncul dan perlu disikapi secara kritis.

Pada akhirnya, iklan Ramayana 2018 diposisikan bukan hanya sebagai contoh bagaimana musik dapat memperkuat daya ingat publik terhadap sebuah iklan, tetapi juga sebagai materi yang memunculkan kembali pembacaan tentang isu sosial yang dianggap masih relevan. Dengan memadukan humor, lagu yang menempel di kepala, dan cerita keseharian, iklan tersebut dinilai meninggalkan kesan kuat bagi banyak penonton.