Hoaks Catut Nama Prabowo Marak di Media Sosial, Termasuk Foto Editan dengan Donald Trump

Hoaks Catut Nama Prabowo Marak di Media Sosial, Termasuk Foto Editan dengan Donald Trump

Presiden Prabowo Subianto kerap menjadi sasaran informasi palsu atau hoaks yang beredar di media sosial. Salah satu yang kembali muncul adalah unggahan foto yang menampilkan Prabowo berdampingan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sambil seolah-olah memamerkan daging babi.

Unggahan tersebut disertai narasi bernada provokatif, di antaranya bertuliskan “Pamer Daging Babi Prabowo dan Donal Tram. MUI Jangan di Makan makanan haram” serta tambahan kalimat “Pamer daging babi Prabowo & Donal Tram. Bagaimana Menurut Natizen??..”. Salah satu akun di Facebook mengunggahnya pada 27 Februari 2026.

Namun, foto itu disebut merupakan hasil editan. Foto aslinya memperlihatkan momen saat Prabowo dan Trump menandatangani Perjanjian Perdagangan Timbal Balik antara Indonesia dan Amerika Serikat di Washington, D.C., pada Kamis, 19 Februari 2026.

Selain foto editan tersebut, beredar pula sejumlah klaim lain yang mencatut nama Prabowo. Di antaranya, sebuah postingan yang menyatakan Prabowo mengklaim Donald Trump dan Benjamin Netanyahu takut kepadanya karena disebut sebagai “Macan Asia”. Unggahan itu beredar sejak pertengahan pekan lalu dan salah satu akun di Facebook mengunggahnya pada 5 Maret 2026, disertai tangkapan layar TV One News dan narasi: “Prabowo! Trump dan Netanyahu Takut Dengan Saya, Amerika dan Israel Tau Kalu Prabowo Adalah Macan Asia yg ditakuti Di Asia.”

Hoaks lain menyebut Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, meminta Prabowo lebih memperhatikan rakyat miskin ketimbang menjadi mediator Iran dan Amerika Serikat. Postingan ini mulai beredar sejak awal pekan dan salah satu akun di Facebook mengunggahnya pada 4 Maret 2026, disertai narasi: “Iran tolak ajakan mediasi Indonesia dengan AS: Lebih baik urus rakyat anda masih banyak yang m1sk1n! Kami tidak membuka ruang mediasi dengan AS!” serta tambahan komentar bernada sindiran.

Maraknya unggahan semacam ini menunjukkan pentingnya kehati-hatian saat menerima informasi di media sosial, terutama yang menggunakan foto atau narasi yang memancing emosi. Masyarakat diimbau memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.