Kemajuan kecerdasan buatan (AI) membawa banyak inovasi, tetapi juga membuka celah penyalahgunaan untuk membuat hoaks dan misinformasi yang semakin sulit dikenali. Konten palsu kini dapat dimanipulasi dalam bentuk video, gambar, maupun audio dengan tingkat kemiripan tinggi, sehingga tampak seperti kejadian nyata.
Situasi ini menjadi perhatian karena hoaks berbasis AI berpotensi mengikis kepercayaan publik terhadap informasi, memicu kerugian finansial, dan mengganggu stabilitas sosial-politik. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dengan mengenali pola dan ragam hoaks yang beredar.
Sejumlah klaim yang beredar di media sosial belakangan ini menunjukkan bagaimana AI dimanfaatkan untuk membuat narasi menyesatkan. Berikut beberapa contoh yang telah diidentifikasi dalam penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.
1. Klaim video tentara Israel diserang ribuan lebah di kapal perang
Sebuah video yang menampilkan sejumlah tentara di atas kapal perang disebut-sebut memperlihatkan tentara Israel diserang ribuan lebah. Dalam rekaman itu, terlihat beberapa orang melompat dari kapal seolah menghindari serangan. Video tersebut beredar sejak akhir pekan dan salah satunya diunggah akun Facebook pada 7 Maret 2026 dengan narasi: “Terbaru, tentara Israel, di serang Ribuan Lebah, Apalah ini tanda Bahwa Alloh murka Pada Israel.”
2. Klaim video Menag Nasaruddin Umar memberikan bantuan Rp 40 juta dengan cara melengkapi huruf
Konten lain menampilkan klaim video Menteri Agama Nasaruddin Umar yang disebut mengumumkan bantuan sebesar Rp 40 juta. Unggahan di Facebook pada 9 Maret 2026 itu mengarahkan warganet untuk “melengkapi huruf” sebagai syarat, disertai menu kirim pesan. Dalam narasi video disebutkan penerima akan dipilih dari beberapa orang “yang beruntung”, sementara teka-teki yang diminta dilengkapi berbunyi: “M_NT_R_ _G_M_”.
3. Klaim video Wapres Gibran mengumumkan bantuan dana spesial Ramadan Rp 25 juta
Sebuah akun Facebook pada 25 Februari 2026 mengunggah video yang diklaim berisi pernyataan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengenai “bantuan dana spesial Ramadan” sebesar Rp 25 juta. Unggahan itu mencantumkan syarat seperti menyukai dan membagikan postingan. Dalam video, Gibran disebut mengajak masyarakat yang membutuhkan biaya sekolah, kuliah, membayar utang, modal usaha, atau keluhan ekonomi untuk berkomentar asal kota, dengan klaim bantuan dapat “langsung cair” melalui langkah sederhana tersebut.
Ragam contoh di atas menunjukkan pola umum hoaks berbasis AI: memanfaatkan figur publik, menonjolkan iming-iming bantuan uang, serta menyertakan ajakan interaksi atau tautan/fitur pesan untuk menjerat korban. Masyarakat diimbau lebih berhati-hati saat menemukan konten serupa, terutama yang meminta tindakan cepat atau menjanjikan keuntungan finansial.

