Fashionology 2026 UC di Surabaya Angkat Isu Lingkungan, Budaya, dan Sosial Lewat Karya Mahasiswa

Fashionology 2026 UC di Surabaya Angkat Isu Lingkungan, Budaya, dan Sosial Lewat Karya Mahasiswa

Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra (UC) Surabaya menggelar pagelaran busana Fashionology 2026 di Ciputra World Surabaya, Senin (8/6/2026). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Program Studi Fashion Product Design and Business UC dengan tema “The Liminal”.

Ketua Program Studi sekaligus Ketua Fashionology 2026, Yoanita Kartika Sari Tahalele, B.A., M.A., menjelaskan tema tersebut mengajak pengunjung menyelami ruang transisi: antara dunia akademik dan profesional, antara tradisi dan inovasi, serta antara tantangan masa kini dan peluang masa depan.

Menurut Yoanita, Fashionology 2026 menjadi puncak perjalanan akademik mahasiswa sekaligus titik awal memasuki industri profesional. Ia menyebut setiap koleksi merupakan hasil proses panjang selama empat tahun, yang di dalamnya terdapat riset, eksplorasi, kreativitas, serta keberanian menawarkan solusi melalui desain.

Dalam pagelaran ini, sebanyak 56 mahasiswa tingkat akhir menampilkan koleksi dari berbagai kategori, mulai dari evening wear, streetwear, modest wear, hingga childrenswear. Yoanita mengatakan karya-karya tersebut tidak hanya menonjolkan eksplorasi estetika, tetapi juga mengangkat isu strategis seperti keberlanjutan lingkungan, pelestarian budaya, identitas generasi muda, hingga perubahan sosial di tengah masyarakat.

Sejumlah karya, lanjutnya, lahir dari upaya pemanfaatan limbah tekstil menjadi produk bernilai tinggi, serta eksplorasi budaya lokal yang diterjemahkan ke dalam bahasa desain kontemporer. Selain itu, terdapat kolaborasi dengan pelaku UMKM. Sebanyak 10 mahasiswa semester enam turut mempresentasikan hasil real client project bersama UMKM Batik Reog Ponorogo, yang menurut Yoanita menunjukkan peluang sinergi pendidikan tinggi dengan industri kreatif dan pemberdayaan ekonomi lokal.

Yoanita berharap pengalaman Fashionology 2026 dapat menjadi bekal bagi para lulusan untuk memasuki dunia profesional dengan percaya diri, memperluas jejaring, serta berkontribusi bagi perkembangan industri fashion Indonesia dan dunia. Ia menilai pagelaran ini juga menandai lahirnya para kreator baru yang siap membawa gagasan mereka ke panggung yang lebih luas.

Salah satu mahasiswa, Jocelin Clementine, menuturkan koleksinya berangkat dari pengalaman psikologis skizofrenia paranoid sebagai dasar visual dan desain. Ia menyebut koleksi tersebut menjadi bentuk ekspresi yang menerjemahkan perasaan kecurigaan, kewaspadaan berlebih, dan konflik batin ke dalam garmen yang dapat dikenakan.

Jocelin menjelaskan setiap elemen desain diperlakukan sebagai terjemahan simbolis. Siluet oversized yang melebar merepresentasikan mekanisme pertahanan diri, konstruksi asimetris mencerminkan ketidakstabilan dan kekacauan batin, sementara motif mata yang tersebar di permukaan kain menggambarkan paranoia konstan akan tatapan yang tak pernah berhenti. Ia menambahkan slashing dimaknai sebagai luka psikologis, sedangkan tali merah dan rantai yang membelit menjadi simbol rasa terkekang dan terbelenggu dalam kondisi yang tidak dipilih.

Dalam prosesnya, karya tersebut menggunakan material denim, cotton twill, dan scuba spandex. Jocelin menegaskan koleksinya menempatkan fashion bukan semata dekorasi, melainkan medium ekspresi yang mempertanyakan batas antara apa yang tampak dari luar dan apa yang sesungguhnya dirasakan di dalam.