Film kerap menjadi medium untuk membaca ulang peristiwa, menguji nurani, sekaligus memahami cara kerja kekuasaan. Di Netflix, ada sejumlah judul yang menempatkan isu sosial dan politik sebagai inti cerita—mulai dari persidangan aktivis, luka akibat kekerasan aparat, hingga alegori tentang otoritarianisme. Berikut empat film yang menonjol lewat tema-tema tersebut.
1. The Trial of the Chicago 7 (2020)
Disutradarai Aaron Sorkin, The Trial of the Chicago 7 berangkat dari kerusuhan yang terjadi di Chicago, Amerika Serikat, saat Democratic National Convention pada 1968. Ketika itu, demonstran anti-Perang Vietnam bentrok dengan polisi hingga ratusan orang terluka dan ditangkap. Film ini tidak berhenti pada gambaran kekacauan di jalanan, melainkan menyorot persidangan kontroversial delapan aktivis yang dikenal sebagai Chicago 8.
Di antara tokoh yang ditampilkan ada Abbie Hoffman (Sacha Baron Cohen), Tom Hayden (Eddie Redmayne), dan Bobby Seale (Yahya Abdul-Mateen II). Mereka didakwa berkonspirasi memicu kerusuhan, meski sebagian besar tindakan yang digambarkan lebih berupa demonstrasi damai. Seale, yang merupakan orang kulit hitam, bahkan diperlihatkan diikat dan dibungkam di kursi persidangan karena tidak memiliki pengacara.
Melalui kisah ini, film tersebut menghadirkan refleksi tentang politik, ras, dan hak sipil. Narasinya menekankan bagaimana sistem hukum dapat dimanipulasi untuk menekan kelompok tertentu, terutama minoritas dan aktivis.
2. Athena (2022)
Athena, film Prancis garapan Romain Gavras, mengangkat luka sosial yang berkaitan dengan kekerasan aparat. Dengan visual yang menonjol dan narasi yang sarat kritik sosial, film ini memotret ketidakadilan sekaligus solidaritas warga kelas pekerja yang merasa tersudutkan.
Cerita berpusat pada tiga bersaudara keturunan Aljazair: Abdel (Dali Benssalah), Karim (Sami Slimane), dan Moktar (Ouassini Embarek). Mereka terpukul setelah adik bungsu, Idir, tewas dipukuli polisi secara brutal. Abdel yang seorang tentara berupaya meredam amarah massa, sementara Karim memilih jalur perlawanan dengan memimpin kerusuhan melawan aparat.
Sejak awal, film ini menampilkan kerusuhan masif melalui rangkaian adegan one-take yang mengikuti pergerakan Karim dan massa. Di balik intensitas aksi, Athena juga menyimpan cerita personal tentang keluarga yang retak akibat kekerasan struktural.
3. Don’t Look Up (2021)
Meski berlabel komedi fiksi ilmiah, Don’t Look Up arahan Adam McKay dibangun sebagai sindiran terhadap respons elite terhadap krisis global. Ceritanya dimulai ketika Kate Dibiasky (Jennifer Lawrence), kandidat doktor astronomi, menemukan komet raksasa yang meluncur menuju Bumi. Bersama profesornya, Dr. Randall Mindy (Leonardo DiCaprio), ia berusaha memperingatkan pemerintah, namun justru terseret ke dalam absurditas politik, kedangkalan media, serta permainan korporasi.
Film ini menampilkan berbagai figur yang menegaskan satire tersebut, termasuk Presiden Janie Orlean (Meryl Streep) yang digambarkan lebih memikirkan elektabilitas daripada ancaman bencana, serta Peter Isherwell (Mark Rylance), miliarder yang melihat komet sebagai peluang bisnis. Di sisi lain, media dalam cerita juga digambarkan lebih tertarik pada drama selebritas ketimbang ancaman yang kian dekat.
4. El Conde (2023)
Jika Don’t Look Up memakai fiksi ilmiah untuk mengulas isu sosial-politik, El Conde menawarkan pendekatan berbeda lewat horor, komedi gelap, dan metafora politik. Film garapan Pablo Larraín ini tampil dengan visual hitam-putih dan menyodorkan alegori tentang bagaimana kekuasaan otoriter digambarkan tidak pernah benar-benar mati.
El Conde berkisah tentang Augusto Pinochet (Jaime Vadell), diktator Cile yang digambarkan sebagai vampir berusia ratusan tahun. Setelah lama bertahan hidup dengan meminum darah korbannya, ia mulai lelah dan ingin melepaskan keabadiannya. Namun, keputusan itu memicu kedatangan keluarganya yang serakah untuk berebut keuntungan dari “warisan” sang vampir.
Alih-alih menjadi biopik literal, film ini menggunakan metafora vampir untuk menggambarkan kerakusan, kekerasan, dan daya tahan sebuah rezim diktator. Pinochet ditampilkan bukan hanya sebagai monster, tetapi simbol kekuasaan yang terus mencari cara bertahan, sehingga temanya terasa relevan bagi negara-negara yang masih dibayangi otoritarianisme.
Keempat film tersebut menunjukkan bagaimana hiburan dapat berjalan beriringan dengan pembacaan sosial dan politik. Dari ruang sidang, jalanan yang memanas, hingga satire tentang krisis, masing-masing menawarkan cara berbeda untuk menyorot realitas yang sering kali tidak sederhana.

