Edukasi Pencegahan Kekerasan dan Kesehatan Seksual-Reproduksi untuk Siswa Tuli di SLBN Mempawah

Edukasi Pencegahan Kekerasan dan Kesehatan Seksual-Reproduksi untuk Siswa Tuli di SLBN Mempawah

Maktab Tuli As-Sami’ bersama Yayasan Akar Semesta Setara menggelar kegiatan “goes to SLBN Mempawah” untuk sosialisasi pencegahan kekerasan serta edukasi kesehatan seksual dan reproduksi bagi peserta didik Tuli, Kamis, 23 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung di lingkungan SLBN Mempawah itu juga dirangkaikan dengan tausiah menggunakan bahasa isyarat guna memperkuat pemahaman nilai moral dan spiritual peserta.

Program tersebut disambut antusias oleh siswa dan guru. Materi sosialisasi menitikberatkan pada pengenalan bentuk-bentuk kekerasan, cara melindungi diri, serta pemahaman mengenai hak atas kesehatan seksual dan reproduksi yang aman dan bermartabat, khususnya bagi penyandang disabilitas.

Ketua Yayasan Bhakti Arumi Delangga, Fakhrul Maulana, menegaskan komitmen pihaknya dalam memperjuangkan pemenuhan hak penyandang disabilitas. Menurutnya, edukasi yang inklusif dan ramah disabilitas menjadi langkah penting untuk mencegah kekerasan sekaligus membangun kesadaran diri sejak dini.

“Yayasan Bhakti Arumi Delangga dan Yayasan Akar Semesta Setara hadir dan bergerak untuk teman-teman disabilitas agar mereka dapat memperoleh haknya secara utuh, terutama hak atas kesehatan seksual dan reproduksi serta hak pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi,” ujar Fakhrul.

Kepala SLBN Mempawah, Dewi Triyani, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai materi yang disampaikan tidak rumit sehingga mudah dipahami peserta didik.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat dan dibutuhkan, khususnya bagi anak-anak disabilitas yang memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap kekerasan seksual. Materi yang disampaikan mudah dipahami, metode penyampaiannya ramah anak, dan sangat membantu anak-anak mengenali bagian tubuh pribadi serta berani mengatakan tidak dan melapor jika terjadi hal yang tidak aman,” kata Dewi.

Dalam kegiatan itu, peserta juga mendapat penekanan bahwa edukasi tentang tubuh, batasan diri, dan keamanan perlu diberikan sejak dini, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Masyarakat pun diharapkan tidak menutup mata terhadap tanda-tanda kekerasan, berani melaporkan, serta memberikan dukungan kepada korban. Penyandang disabilitas ditegaskan memiliki hak yang sama untuk hidup aman, dihargai, dan dilindungi.

Materi pencegahan kekerasan seksual disampaikan oleh Zahraini. Ia menekankan pentingnya edukasi sejak dini bagi anak disabilitas agar mampu mengenali batasan tubuh, memahami situasi berisiko, serta berani melaporkan apabila mengalami atau melihat tindakan kekerasan.

Sementara itu, tausiah dalam bahasa isyarat disampaikan oleh Faiz, teman Tuli, dengan pendampingan Reza sebagai tarjim. Tausiah tersebut menekankan pentingnya pemahaman agama sejak usia dini sebagai pondasi pembentukan karakter, upaya menjaga diri, serta penanaman nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap kesadaran, keberanian, dan pemahaman peserta didik Tuli terhadap hak-hak dasar mereka semakin meningkat, sekaligus mendorong terwujudnya lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan berkeadilan.