Dorong Kemandirian dan Mata Pencaharian Stabil, Upaya Pengentasan Kemiskinan Berkelanjutan di Daerah Pegunungan Diperkuat

Dorong Kemandirian dan Mata Pencaharian Stabil, Upaya Pengentasan Kemiskinan Berkelanjutan di Daerah Pegunungan Diperkuat

Salah satu tantangan terbesar dalam pengurangan kemiskinan berkelanjutan di daerah pegunungan adalah pola pikir ketergantungan pada dukungan pemerintah. Sejumlah rumah tangga miskin dinilai belum cukup berani mengubah cara berpikir dan bertindak, serta kurang proaktif mencari mata pencaharian yang sesuai dengan kondisi alam setempat.

Untuk menjawab persoalan tersebut, komite-komite Partai dan otoritas di berbagai tingkatan memusatkan perhatian pada kegiatan sosialisasi dan mobilisasi. Masyarakat didorong memahami bahwa dukungan negara berperan sebagai “pengungkit”, sementara keberhasilan keluar dari kemiskinan terutama bergantung pada kemauan dan upaya tiap keluarga.

Contoh perubahan itu terlihat pada keluarga Bapak Vang A De di Desa Lang Sang, Komune Pung Luong. Keluarga yang selama bertahun-tahun masuk kategori miskin dan sebelumnya menerima bantuan pemerintah ini, pada 2022 berhasil keluar dari kemiskinan. Setelah tiga tahun menstabilkan kehidupan, kondisi ekonomi keluarga disebut semakin nyaman dan kini tengah membangun rumah kayu yang lebih luas.

“Untuk keluar dari kemiskinan dan menghindari jatuh kembali ke dalamnya, seseorang harus bekerja keras. Keluarga saya fokus pada peternakan, bekerja dengan tekun, dan tidak bergantung atau mengharapkan dukungan dari Negara,” kata Vang A De.

Menurut berbagai pihak di daerah tersebut, kunci pengentasan kemiskinan berkelanjutan terletak pada penciptaan mata pencaharian yang stabil. Di sejumlah wilayah pegunungan, pemilihan tanaman dan ternak yang sesuai dengan iklim serta kondisi tanah dinilai telah memberikan hasil yang jelas.

Warga yang sebelumnya menjalankan produksi terfragmentasi dan bersifat swasembada diarahkan beralih ke tanaman bernilai ekonomi lebih tinggi, seperti teh, kayu manis, hawthorn, dan tanaman obat. Selain itu, peternakan juga didorong berkembang dalam skala lebih besar menuju orientasi komersial.

Desa Lang Sang saat ini memiliki 186 rumah tangga dengan 894 penduduk. Pada masa sebelumnya, kombinasi kondisi ekonomi yang sulit, dampak kecanduan opium, serta mentalitas bergantung pada bantuan pemerintah membuat tingkat kemiskinan di desa itu tinggi, bahkan dilaporkan melebihi 70%.

Dalam beberapa tahun terakhir, dukungan dana kredit kebijakan dan Program Target Nasional untuk Pengurangan Kemiskinan Berkelanjutan membuka akses pinjaman preferensial, dukungan mata pencaharian, serta transfer teknologi bagi banyak rumah tangga. Seiring upaya warga memperbaiki taraf hidup, jumlah rumah tangga miskin di desa tersebut kini tersisa 10, sementara rumah tangga hampir miskin tercatat 8.

Sekretaris Cabang Partai Desa Lang Sang, Bapak Mua A Cua, menekankan pentingnya pencegahan agar keluarga tidak kembali miskin. “Untuk mencegah kembalinya kemiskinan, kita harus memerangi perjudian dan kecanduan narkoba. Bagi keluarga yang telah keluar dari kemiskinan, cabang Partai dan desa membimbing mereka untuk menanam tanaman bernilai tinggi, menciptakan kondisi bagi masyarakat untuk meminjam modal, dan mendorong mereka untuk bekerja keras dan mengembangkan perekonomian mereka,” ujarnya.

Kredit kebijakan disebut sebagai salah satu solusi penting untuk membantu masyarakat pegunungan berinvestasi dalam pengembangan produksi. Melalui Bank Kebijakan Sosial, program pinjaman bagi rumah tangga miskin, hampir miskin, yang baru keluar dari kemiskinan, serta pinjaman untuk penciptaan lapangan kerja dijalankan dengan penargetan penerima manfaat dan tujuan penggunaan dana.

Direktur cabang Mu Cang Chai Bank Kebijakan Sosial, Bapak Bui Van Hoa, mengatakan lembaganya siap menyalurkan pinjaman kepada rumah tangga yang memenuhi syarat. “Hingga saat ini, total saldo pinjaman yang beredar telah mencapai lebih dari 510 miliar VND dengan lebih dari 8.000 nasabah yang merupakan rumah tangga miskin dan penerima kebijakan lainnya,” kata dia.

Sejumlah daerah juga memperkuat pengawasan dan bimbingan agar modal digunakan secara efektif. Koordinasi antara bank, asosiasi, dan pemerintah daerah disebut membantu membatasi penyalahgunaan dana, sekaligus meningkatkan efektivitas program pengurangan kemiskinan.

Di luar sektor pertanian, pelatihan kejuruan dan penciptaan lapangan kerja dipandang sebagai pendekatan penting lainnya. Kursus pelatihan jangka pendek—seperti peternakan, budidaya tanaman, pembuatan pakaian, dan mekanik skala kecil—membantu pekerja pedesaan meningkatkan keterampilan dan pendapatan. Sebagian peserta pelatihan juga memperoleh pekerjaan di kawasan industri dan bisnis, baik di dalam maupun luar provinsi, yang turut mendorong perubahan kebiasaan kerja dan peningkatan standar hidup.

Ketua Komite Rakyat Komune Pung Luong, Bapak Pham Tien Lam, mengatakan pengentasan kemiskinan dilakukan melalui rangkaian solusi komprehensif, mulai dari jaminan sosial, pinjaman, pelatihan kejuruan, hingga restrukturisasi tanaman. “Yang terpenting, kami fokus pada peningkatan kesadaran dan mendorong rumah tangga miskin untuk mengubah pola pikir mereka; hanya dengan demikian pengentasan kemiskinan dapat benar-benar berkelanjutan,” ujarnya.

Secara umum, pengurangan kemiskinan berkelanjutan di daerah pegunungan dipandang sebagai proses jangka panjang yang menuntut upaya terkoordinasi dari berbagai unsur, peningkatan diri masyarakat, serta pendekatan yang fleksibel dan kreatif sesuai kondisi tiap wilayah. Ketika masyarakat menjadi subjek utama pembangunan dan mampu memanfaatkan kebijakan dukungan serta potensi yang tersedia secara efektif, target pengentasan kemiskinan berkelanjutan di daerah pegunungan dinilai dapat dicapai secara bertahap.