Din Syamsuddin dan Peringatan tentang Umat yang Retak: Mengapa Seruan Persatuan Mendadak Jadi Tren

Din Syamsuddin dan Peringatan tentang Umat yang Retak: Mengapa Seruan Persatuan Mendadak Jadi Tren

Di tengah Idul Adha, sebuah pesan persatuan kembali memantul keras di ruang publik.

Din Syamsuddin, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, mengingatkan agar perbedaan organisasi, paham keagamaan, dan pilihan politik tidak menyeret umat pada perpecahan.

Seruan itu disampaikan dalam khutbah Idul Adha di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan, Rabu, 27 Mei 2026.

Kalimatnya sederhana, tetapi gaungnya panjang.

Di Indonesia, kesederhanaan semacam itu justru sering menjadi bahan perbincangan luas.

Apalagi ketika ia menyentuh titik rawan yang akrab bagi banyak orang, yaitu agama, organisasi, dan politik dalam satu tarikan napas.

-000-

Mengapa Ini Menjadi Tren

Isu ini menjadi tren karena ia berbicara pada pengalaman sehari-hari masyarakat.

Perbedaan pilihan politik dan afiliasi organisasi kerap merembes ke ruang keluarga, pertemanan, bahkan komunitas masjid.

Ketika tokoh publik menyebutnya secara terang, banyak orang merasa sedang ditegur, atau setidaknya sedang diajak bercermin.

Alasan pertama, pesannya keluar pada momen Idul Adha.

Idul Adha adalah perayaan yang menekankan pengorbanan dan kepatuhan, sehingga seruan untuk menahan ego kelompok terasa relevan dan emosional.

Alasan kedua, Din menyebut fakta yang sering diperdebatkan, yaitu banyaknya organisasi Islam di Indonesia.

Keragaman itu bisa menjadi kekuatan, tetapi juga mudah berubah menjadi kompetisi identitas.

Ketika kompetisi identitas bertemu aspirasi politik, percakapan publik cepat memanas.

Alasan ketiga, Din menyinggung kesenjangan antara kuantitas dan kualitas umat.

Ia mengakui Indonesia berpenduduk muslim terbesar secara jumlah, namun menurutnya belum sebanding dengan kualitas di berbagai bidang.

Pernyataan semacam ini memancing diskusi karena menyentuh harga diri kolektif.

Ia mengundang pertanyaan lanjutan, apa yang salah, dan siapa yang harus berubah.

-000-

Apa yang Disampaikan Din Syamsuddin

Din meminta umat tidak terjebak perpecahan karena perbedaan organisasi, paham keagamaan, aspirasi, dan kepentingan politik.

Ia menilai konflik hanya membawa kegagalan.

Ia mengutip pesan Al-Qur’an agar umat tidak bertikai, karena pertikaian dapat menghilangkan kewibawaan dan kekuatan.

Di hadapan jamaah, ia juga menilai umat Islam masih tertinggal dalam berbagai aspek kehidupan.

Ia menyebut ketertinggalan itu mencakup sosial, ekonomi, dan politik.

Din bahkan mengatakan umat Islam terpinggirkan, khususnya dalam bidang ekonomi.

Di sisi lain, ia mengajak umat mengedepankan toleransi dalam menghadapi perbedaan.

Untuk relasi dengan non-muslim, ia menyebut prinsip “lakum dinukum waliyadin.”

Untuk sesama muslim, ia mengajukan semangat “lakum ra’yukum wa li ra’yi,” bagimu pendapatmu, bagiku pendapatku.

Namun ia menekankan satu simpul, yaitu persaudaraan dalam keimanan dan kemanusiaan.

Din menutup pesannya dengan ajakan agar umat bangkit menampilkan peran kebangsaan.

Ia menyebut tanggung jawab umat adalah memajukan Indonesia dan membebaskannya dari segala bentuk kemungkaran.

-000-

Retaknya Persaudaraan dan Biaya Sosial yang Tak Terlihat

Perpecahan tidak selalu hadir dalam bentuk keributan besar.

Ia sering muncul sebagai saling curiga, saling sindir, dan enggan duduk satu meja.

Dalam masyarakat yang religius, perbedaan pendapat mudah diberi cap moral.

Ketika cap moral ditempelkan, kompromi menjadi terasa seperti pengkhianatan.

Di sinilah peringatan Din menemukan pijakan.

Ia tidak sedang membahas perbedaan sebagai kesalahan, melainkan cara mengelola perbedaan agar tidak berubah menjadi pertikaian.

Secara sosiologis, konflik identitas sering membesar ketika batas “kita” dan “mereka” dipertegas.

Agama dan politik adalah dua sumber identitas yang paling kuat.

Jika keduanya bertemu tanpa etika dialog, yang lahir bukan kompetisi gagasan, melainkan pertarungan loyalitas.

-000-

Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia: Demokrasi, Kohesi Sosial, dan Ekonomi

Seruan persatuan umat tidak berdiri sendiri.

Ia terkait langsung dengan kualitas demokrasi Indonesia.

Demokrasi membutuhkan perbedaan, tetapi juga membutuhkan kemampuan hidup bersama setelah berbeda.

Ketika perbedaan politik dibawa ke wilayah iman, ruang tengah mengecil.

Akibatnya, musyawarah berubah menjadi saling meniadakan.

Isu ini juga berkaitan dengan kohesi sosial.

Indonesia adalah negara majemuk, dan kemajemukan hanya bertahan jika ada kebiasaan menahan diri.

Din menekankan toleransi, baik lintas agama maupun intra-umat.

Itu menyentuh kebutuhan nasional yang lebih luas, yaitu menjaga persatuan di tengah perbedaan yang sah.

Lalu ada isu ekonomi yang disebut Din secara tegas.

Ketika energi sosial habis untuk konflik, perhatian pada pendidikan, produktivitas, dan kolaborasi ekonomi ikut melemah.

Di titik ini, persatuan bukan slogan moral semata.

Ia menjadi prasyarat untuk kerja kolektif, termasuk kerja memperbaiki ketimpangan dan memperluas kesempatan.

-000-

Riset yang Relevan: Polarisasi dan Kepercayaan Sosial

Berbagai riset internasional tentang polarisasi menunjukkan pola yang sejalan dengan kekhawatiran Din.

Polarisasi membuat orang menilai pihak lain bukan sekadar berbeda, melainkan berbahaya.

Dalam ilmu politik, gejala ini sering dikaitkan dengan “affective polarization.”

Intinya, emosi negatif terhadap kelompok lain meningkat, bahkan ketika perbedaan kebijakan tidak terlalu jauh.

Ketika polarisasi membesar, kepercayaan sosial menurun.

Padahal kepercayaan sosial merupakan modal penting bagi kerja sama ekonomi dan stabilitas politik.

Dalam sosiologi, modal sosial sering dipahami sebagai jaringan, norma, dan kepercayaan yang memungkinkan koordinasi.

Jika jaringan sosial pecah oleh pertikaian identitas, biaya koordinasi meningkat.

Orang lebih sulit berkolaborasi, lebih mudah curiga, dan lebih cepat menolak gagasan dari “kelompok lain.”

Pesan Din tentang persaudaraan dapat dibaca sebagai upaya menjaga modal sosial itu.

Ia mengajak umat mengelola perbedaan agar tidak merusak kepercayaan yang menjadi fondasi kehidupan bersama.

-000-

Rujukan Luar Negeri: Ketika Agama dan Politik Berkelindan

Banyak negara pernah mengalami ketegangan ketika agama dan politik saling menunggangi.

Dalam berbagai konteks, polarisasi meningkat saat identitas keagamaan dipakai sebagai penanda kubu politik.

Amerika Serikat sering dijadikan contoh bagaimana polarisasi politik dapat merembes ke komunitas berbasis iman.

Perbedaan pilihan politik dapat memengaruhi relasi sosial, bahkan dalam komunitas keagamaan.

India juga kerap dibahas dalam literatur internasional ketika politik identitas membentuk garis pemisah sosial.

Ketika identitas mayoritas dan minoritas dipertentangkan, ruang kewargaan menyempit.

Pelajaran besarnya bukan untuk menyamakan situasi.

Pelajaran besarnya adalah mengenali pola, bahwa polarisasi identitas cenderung merusak kepercayaan, memperkeras bahasa, dan mempersulit kompromi.

Seruan Din dapat ditempatkan sebagai peringatan dini.

Bahwa bangsa besar tidak hanya diuji oleh kemampuan menang dalam kompetisi politik.

Bangsa besar diuji oleh kemampuan tetap menjadi satu komunitas setelah kompetisi selesai.

-000-

Membaca Pesan “Kuantitas dan Kualitas” dengan Kepala Dingin

Pernyataan Din tentang kesenjangan kuantitas dan kualitas mudah memantik reaksi defensif.

Namun ia juga bisa dibaca sebagai ajakan untuk mengukur diri secara jujur.

Din menyebut ketertinggalan di aspek sosial, ekonomi, dan politik.

Ia menyebut umat bahkan terpinggirkan dalam ekonomi.

Tanpa menambah data baru, pesan itu dapat dipahami sebagai dorongan memperkuat kapasitas.

Kapasitas yang dimaksud mencakup pendidikan, etos kerja, kepemimpinan publik, dan kemampuan membangun institusi.

Di sinilah perdebatan sering keliru arah.

Orang sibuk membela simbol, tetapi lupa membangun kemampuan.

Orang sibuk memenangkan perdebatan, tetapi lupa memenangkan masa depan.

-000-

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, pisahkan perbedaan pendapat dari permusuhan.

Kalimat Din “bagimu pendapatmu, bagiku pendapatku” adalah etika dasar agar perbedaan tidak berubah menjadi vonis moral.

Kedua, perkuat ruang dialog lintas organisasi dan lintas pandangan.

Keragaman organisasi Islam adalah fakta, dan fakta itu bisa menjadi ekosistem kolaborasi jika ada tradisi saling mendengar.

Ketiga, tempatkan politik sebagai sarana, bukan identitas iman.

Pilihan politik bisa berubah, tetapi persaudaraan dan kewargaan harus dijaga agar tidak habis di musim kontestasi.

Keempat, arahkan energi kolektif pada kerja nyata.

Din mengingatkan soal ketertinggalan dan keterpinggiran ekonomi.

Respons paling produktif adalah memperbesar kerja pendidikan, pemberdayaan, dan penguatan institusi sosial.

Kelima, rawat toleransi dalam dua lapis.

Lapisan pertama adalah toleransi lintas agama.

Lapisan kedua adalah toleransi di antara sesama muslim yang berbeda paham dan aspirasi.

Jika lapisan kedua rapuh, lapisan pertama ikut rentan.

-000-

Penutup: Persatuan sebagai Tugas yang Harus Diusahakan

Khutbah Idul Adha Din Syamsuddin menjadi tren karena ia menyentuh luka yang nyata, sekaligus menawarkan bahasa yang menenangkan.

Ia tidak meminta umat meniadakan perbedaan.

Ia meminta umat mengelola perbedaan agar tidak berubah menjadi pertikaian yang melemahkan.

Indonesia membutuhkan kedewasaan semacam itu.

Di negara majemuk, persatuan bukan keadaan alami yang hadir sendiri.

Persatuan adalah keputusan yang diulang setiap hari, dalam pilihan kata, dalam sikap, dan dalam kesediaan menghormati sesama.

Ketika perbedaan memanas, mungkin kita perlu mengingat satu kalimat yang sederhana namun menuntun.

“Kita boleh berbeda pendapat, tetapi kita tidak boleh kehilangan persaudaraan.”