Data 2024: Anak Usia 15–20 Tahun Tidak Sekolah di Sidoarjo Tercatat 7.695 Kasus

Data 2024: Anak Usia 15–20 Tahun Tidak Sekolah di Sidoarjo Tercatat 7.695 Kasus

Angka anak tidak sekolah maupun putus sekolah di Kabupaten Sidoarjo dinilai masih tinggi. Kondisi ini muncul di tengah program Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Pemkab Sidoarjo yang terus menambah sekolah SMP negeri baru di sejumlah wilayah.

Beberapa penambahan sekolah yang disebut antara lain pembangunan SMP Negeri 2 Tulangan dan SMP Negeri 2 Prambon yang masih dikebut. Disebutkan pula SMP Negeri 2 Tulangan sudah menerima peserta didik sejak beberapa tahun lalu. Namun, penambahan sekolah baru tersebut dinilai tidak berbanding lurus dengan jumlah anak yang tidak sekolah di Sidoarjo.

Berdasarkan data anak tidak sekolah dengan klasifikasi usia 15 sampai 20 tahun pada 2024, tercatat total 7.695 anak tidak bersekolah. Pengamat pendidikan sekaligus aktivis di Sidoarjo, Badrus Zaman, menilai angka tersebut menjadi sorotan serius bagi sistem pendidikan di daerah itu.

Badrus merinci, dari total 7.695 kasus, anak laki-laki mendominasi dengan 4.480 kasus, sedangkan anak perempuan 3.215 kasus. Menurutnya, angka itu menunjukkan masih adanya persoalan seperti kemiskinan, budaya patriarki, atau keterbatasan akses pendidikan yang memengaruhi keberlanjutan sekolah anak-anak di Sidoarjo.

Ia juga menilai tingginya angka anak tidak sekolah merupakan fakta yang memprihatinkan, terlebih data tersebut dirilis pemerintah melalui open data. Badrus menyebut pemerintah daerah perlu mengambil langkah konkret agar persoalan ini tidak terus berlarut.

Selain menyoroti data, Badrus mengingatkan dampak sosial yang bisa muncul apabila masalah anak tidak sekolah dibiarkan. Ia menyebut potensi meningkatnya persoalan seperti pengangguran, kriminalitas, dan pernikahan dini.

Badrus mendorong Pemkab Sidoarjo, khususnya Dikbud, untuk segera turun ke lapangan mengidentifikasi akar masalah—baik faktor ekonomi, infrastruktur, maupun diskriminasi gender—serta mengalokasikan anggaran secara nyata untuk penanganan anak tidak sekolah.

Ia juga menyebutkan, jika data tersebut dicocokkan dengan data Pusdatin dan opendata UPTD Jatim, jumlah anak usia 15 sampai 20 tahun yang tidak bersekolah tetap tercatat 7.695 kasus. Dari angka itu, 1.371 masuk kategori Lulus Tak Melanjutkan (LTM), sedangkan sisanya disebut berada pada kategori Drop Out (DO) maupun Belum Pernah Bersekolah (BPB). Menurutnya, tanpa langkah konkret, kelompok ini berisiko semakin terpinggirkan.