Aktor Daffa Wardhana memaknai lari maraton bukan semata soal jarak tempuh, target waktu, atau pencapaian pribadi. Melalui partisipasinya di sejumlah ajang maraton internasional, ia menjadikan olahraga tersebut sebagai medium untuk menyuarakan isu sosial dan kesehatan, sekaligus menggalang dukungan bagi pihak yang membutuhkan.
“Garis finish itu bukan hanya pencapaian buat diri aku pribadi, tapi juga buat harapan orang-orang yang bisa aku bantu untuk suarakan,” ujar Daffa saat media briefing di RMHC Kemanggisan, Jakarta Barat, Selasa (10/2/2026).
Salah satu pengalaman yang ia ceritakan adalah ketika mengikuti Sydney Marathon pada Agustus 2025. Selain menuntaskan jarak 42 kilometer dengan catatan waktu di bawah empat jam, Daffa mengaitkan keikutsertaannya dengan penggalangan dana untuk membantu keluarga pasien anak yang memerlukan tempat tinggal selama proses pengobatan.
Dari misi tersebut, terkumpul dana sekitar Rp 140 juta. Dana itu dialokasikan untuk pembangunan rumah singgah bagi keluarga pasien anak bersama Ronald McDonald House Charities.
Keterlibatan Daffa dalam misi sosial lewat maraton bukan kali pertama dilakukan. Sebelumnya, saat mengikuti Berlin Marathon, ia juga mengangkat isu thalassemia setelah berkenalan dengan seorang fotografer sekaligus videografer yang anaknya harus menjalani transfusi darah rutin setiap beberapa minggu.
“Di Berlin sebelumnya, itu menyuarakan mengenai thalassemia. Jadi, aku menggalang dana pada saat itu sesuai dengan kilometer maratonnya, 42.195,” katanya.
Dari pengalaman tersebut, Daffa menilai olahraga dapat menjadi sarana untuk membuka percakapan tentang isu-isu kesehatan yang jarang mendapat sorotan, sekaligus mengajak lebih banyak orang untuk terlibat. Menurut dia, misi sosial yang dibawa lewat maraton tidak selalu harus berfokus pada penggalangan dana.
Ia menyebut kampanye sosial juga dapat dilakukan melalui cara lain, seperti mengajak masyarakat berdonor darah atau meningkatkan kesadaran publik terhadap isu kesehatan tertentu.
Ketertarikan Daffa pada isu rumah singgah turut berangkat dari pengalaman pribadi. Ia pernah mendampingi neneknya yang menjalani pengobatan kanker di Jakarta dan melihat langsung bagaimana keluarga pasien harus berjuang, termasuk mencari tempat bermalam selama proses perawatan.

