Tim Medis Darurat (Emergency Medical Team/EMT) MER-C ke-12 yang bertugas di Jalur Gaza melaporkan meningkatnya kasus infeksi saluran napas bawah di tengah cuaca musim dingin yang ekstrem dan kolapsnya sistem kesehatan. Kondisi tenda pengungsian yang dinilai tidak layak disebut memperburuk risiko kesehatan warga.
Salah satu tim medis MER-C, Nadia Rosi, menyatakan cuaca dingin membuat angka infeksi saluran napas di Gaza terus meningkat. Ia juga menyoroti keterbatasan obat-obatan dan fasilitas medis yang, menurutnya, dipengaruhi oleh blokade. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan yang diterima Republika.co.id pada Jumat (23/1/2026).
Di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Syuhada Al Aqsa, dokter Mohamad Reynaldi menyebutkan lebih dari 50 persen pasien yang datang menunjukkan gejala infeksi saluran napas. Sementara di ruang rawat inap, dokter Ni Nyoman Indirawati Kusuma mengatakan dua dari tiga pasien yang dirawat terdiagnosis infeksi saluran napas bawah, baik karena virus maupun bakteri.
Indirawati menambahkan, tidak sedikit pasien yang kemudian mengalami gagal napas dan membutuhkan perawatan intensif. Di sisi lain, keterbatasan sumber daya manusia menjadi tantangan besar. Selama genosida berlangsung, disebutkan tidak ada dokter konsultan paru di Gaza, sehingga Indirawati menjadi satu-satunya dokter konsultan paru yang bertugas di wilayah tersebut.
Situasi itu membuatnya harus membagi waktu untuk bekerja di dua rumah sakit, yakni RS Syuhada Al Aqsa dan RS An-Nasser, guna memenuhi kebutuhan layanan konsultan paru. Ia juga menekankan keterbatasan pemeriksaan laboratorium dan ketersediaan obat-obatan menyulitkan penanganan pasien, terutama yang mengalami gagal napas.
Menurut Indirawati, fasilitas untuk pemeriksaan rapid antigen maupun PCR tidak tersedia sehingga penanganan dilakukan berdasarkan penilaian klinis. Ia menyebut hanya ada satu jenis obat antivirus yang tersedia, yakni oseltamivir. Bahkan, pemeriksaan sel darah putih pun harus diajukan melalui permintaan khusus karena keterbatasan reagen.

