Cilegon 2020-2023: Pendidikan dan Kesehatan Membaik, Kemiskinan dan Biaya Hidup Masih Menantang

Cilegon 2020-2023: Pendidikan dan Kesehatan Membaik, Kemiskinan dan Biaya Hidup Masih Menantang

Sejumlah indikator pembangunan manusia dan kondisi sosial ekonomi di Kota Cilegon menunjukkan perubahan selama periode 2020-2023. Data memperlihatkan adanya perbaikan pada aspek pendidikan, kesehatan, dan daya beli, namun di saat yang sama tantangan terkait kemiskinan, biaya hidup, serta distribusi pendapatan masih terlihat.

Pada indikator pendidikan, Harapan Lama Sekolah tercatat meningkat secara konsisten. Angkanya naik dari 13,16 tahun pada 2020 menjadi 13,21 tahun pada 2023. Tren ini menggambarkan perbaikan berkelanjutan pada capaian pendidikan yang diharapkan dapat memperkuat kualitas sumber daya manusia.

Di bidang kesehatan, Umur Harapan Hidup juga meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data SP2010, Umur Harapan Hidup naik dari 73,05 tahun pada 2020 menjadi 74,54 tahun pada 2023. Sementara itu, berdasarkan data SP2020, angkanya meningkat dari 76,80 tahun pada 2020 menjadi 78,24 tahun pada 2023. Kenaikan pada dua rujukan tersebut menunjukkan perbaikan yang stabil pada kondisi kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.

Seiring dengan itu, Pengeluaran per Kapita yang Disesuaikan juga naik. Pada 2020 tercatat sebesar 13.010 ribu rupiah per tahun, meningkat menjadi 13.663 ribu rupiah per tahun pada 2023. Kenaikan ini mengindikasikan adanya pertumbuhan daya beli masyarakat, meski tidak otomatis mencerminkan pemerataan kesejahteraan.

Di sisi lain, tekanan biaya hidup terlihat dari kenaikan Garis Kemiskinan yang meningkat tajam sepanjang 2020-2023. Nilainya naik dari Rp504.571 per kapita per bulan pada 2020 menjadi Rp632.703 per kapita per bulan pada 2023. Peningkatan garis kemiskinan ini mencerminkan kenaikan kebutuhan minimum atau biaya hidup yang harus dipenuhi penduduk.

Jumlah penduduk miskin menunjukkan pola yang berfluktuasi. Pada 2020 tercatat 3,69 ribu jiwa, naik menjadi 4,24 ribu jiwa pada 2021, lalu turun ke 3,64 ribu jiwa pada 2022, dan kembali meningkat menjadi 3,98 ribu jiwa pada 2023. Perubahan dari tahun ke tahun ini menandakan dinamika kemiskinan yang belum sepenuhnya stabil.

Indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan juga bergerak naik-turun. Indeks kedalaman kemiskinan tercatat 0,39 pada 2020, naik menjadi 0,50 pada 2021, turun ke 0,42 pada 2022, lalu naik lagi menjadi 0,48 pada 2023. Sementara indeks keparahan kemiskinan berada pada 0,06 pada 2020, meningkat menjadi 0,11 pada 2021, turun ke 0,09 pada 2022, dan berada di 0,10 pada 2023. Fluktuasi pada dua indikator ini menunjukkan perubahan pada jarak pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan serta tingkat ketimpangan di antara kelompok miskin.

Dalam ketenagakerjaan, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga berfluktuasi. TPAK tercatat 61,83% pada 2020, 61,37% pada 2021, naik ke 67,39% pada 2022, lalu turun menjadi 62,70% pada 2023. Meski partisipasi berfluktuasi, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menunjukkan penurunan yang konsisten dari 12,69% pada 2020 menjadi 7,25% pada 2023.

Sejalan dengan turunnya TPT, Tingkat Kesempatan Kerja meningkat dari 87,31% pada 2020 menjadi 94,76% pada 2023. Data ini menggambarkan perbaikan penyerapan tenaga kerja selama periode tersebut, meski masih diperlukan pembacaan lebih mendalam mengenai sektor pekerjaan yang menyerap tenaga kerja serta kualitas pekerjaan yang tersedia.

Secara keseluruhan, data 2020-2023 memperlihatkan Cilegon mengalami kemajuan pada indikator pendidikan, kesehatan, dan pengeluaran per kapita yang disesuaikan. Namun, kenaikan garis kemiskinan, fluktuasi jumlah penduduk miskin, serta dinamika kedalaman dan keparahan kemiskinan menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah dalam pengendalian biaya hidup dan penguatan perlindungan sosial. Perubahan di pasar kerja yang ditandai penurunan pengangguran turut menjadi catatan penting, bersamaan dengan kebutuhan untuk memastikan kualitas dan keberlanjutan kesempatan kerja.