BI Turunkan BI Rate ke 4,75 Persen, Ekonom Nilai Dorong Konsumsi dan Kredit

BI Turunkan BI Rate ke 4,75 Persen, Ekonom Nilai Dorong Konsumsi dan Kredit

Jakarta — Keputusan Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 4,75 persen dinilai dapat menjadi stimulus penting bagi perekonomian domestik. Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai penurunan suku bunga ini berpotensi memperkuat konsumsi masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan kredit perbankan yang sempat melambat.

Menurut Myrdal, dampak yang paling cepat dirasakan akan muncul pada masyarakat yang memiliki cicilan berbunga mengambang (floating rate). Dengan suku bunga acuan yang lebih rendah, beban pembayaran cicilan dinilai bisa menjadi lebih ringan.

Ia menambahkan, kondisi tersebut diharapkan ikut mendorong konsumsi, meningkatkan daya beli, serta mendukung aktivitas bisnis dan ekspansi, baik untuk korporasi maupun pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dari sisi stabilitas harga, Myrdal memperkirakan inflasi tetap rendah, sekitar 2,2 persen sepanjang 2025. Tekanan inflasi impor juga disebut relatif lemah seiring harga minyak dunia yang diperkirakan tidak melonjak tajam selama tidak terjadi eskalasi geopolitik.

Ia juga menyoroti nilai dolar AS yang dinilai berada pada posisi lebih rendah (undervalued). Jika Federal Reserve melanjutkan penurunan suku bunga pada sisa tahun ini, Myrdal menilai rupiah berpeluang menguat sehingga tekanan inflasi impor dapat tetap dikelola.

Dari perspektif perbankan, Myrdal berharap pertumbuhan kredit dapat mencapai 7 persen hingga 9 persen pada 2025. Namun, ia mengingatkan sekitar 25 persen dana pihak ketiga (DPK) perbankan masih didominasi special rate. Karena itu, ia menilai dibutuhkan transmisi kebijakan moneter yang lebih cepat agar penurunan suku bunga benar-benar efektif dirasakan masyarakat dan dunia usaha.

Secara umum, Myrdal menilai langkah BI menurunkan suku bunga sudah tepat. Dengan inflasi yang terjaga, cadangan devisa yang memadai, serta neraca dagang yang terus mencatat surplus, ia menilai ruang untuk melanjutkan penurunan suku bunga masih terbuka. Kebijakan tersebut, menurutnya, penting agar selisih antara target pertumbuhan pemerintah dan realisasi ekonomi tidak semakin melebar serta menjaga prospek ekonomi Indonesia tetap solid ke depan.

Sementara itu, ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk Hosianna Evalita Situmorang menyebut BI secara mengejutkan menurunkan BI Rate menjadi 4,75 persen pada September 2025 sebagai upaya memperkuat dukungan moneter bagi pertumbuhan ekonomi.

Bersamaan dengan penurunan BI Rate, BI juga memangkas suku bunga deposit facility sebesar 50 basis poin menjadi 3,75 persen dan lending facility sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Langkah ini disebut bertujuan memperdalam pelonggaran di sistem perbankan.

Hosianna menyampaikan dukungan likuiditas tetap dipertahankan melalui penyesuaian kepemilikan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) serta pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder yang hingga September mencapai Rp217,1 triliun.

Ia menilai likuiditas domestik masih longgar, tercermin dari imbal hasil SRBI yang rendah di 5,08 persen dan penerbitan bersih SRBI sebesar Rp5,4 triliun hingga 12 September. Kondisi tersebut, menurutnya, menegaskan peran BI sebagai penyangga likuiditas.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit perbankan sempat pulih menjadi 7,56 persen pada Agustus 2025. Meski demikian, Hosianna mencatat bank masih cenderung menempatkan dana pada instrumen surat berharga dibanding menyalurkan kredit. Ia menambahkan, percepatan belanja fiskal, penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun di perbankan, serta kesepakatan dagang positif dengan Uni Eropa menjadi faktor penopang tambahan.

Dengan inflasi yang diperkirakan tetap berada dalam target 1,5 persen hingga 3,5 persen serta tren pelonggaran Fed Funds Rate, Hosianna memperkirakan arah kebijakan moneter domestik ke depan masih cenderung akomodatif.