Begadang dan Pola Makan Tak Teratur Picu Keluhan Kesehatan Mahasiswa, Apotek Kampus Dipadati Pembeli Obat

Begadang dan Pola Makan Tak Teratur Picu Keluhan Kesehatan Mahasiswa, Apotek Kampus Dipadati Pembeli Obat

Cahaya lampu belajar yang menyala hingga larut malam menyisakan persoalan lain di sekitar kampus: keluhan kesehatan mahasiswa yang kian sering muncul. Selama sepekan terakhir, sejumlah apotek di kawasan Tamantirto, Kabupaten Bantul, mencatat pola keluhan yang serupa—mulai dari asam lambung, sakit kepala, sulit tidur, hingga radang tenggorokan—yang diduga berkaitan dengan stres, aktivitas malam hari, dan kebiasaan makan tidak teratur.

Di Apotek DI Tamantirto, kawasan yang padat mahasiswa, asisten apoteker Fenty Rahmadani (23) mengatakan keluhan yang paling sering disampaikan mahasiswa belakangan ini adalah gangguan pencernaan dan susah tidur. Menurutnya, apotek cenderung ramai dikunjungi mahasiswa pada sore hingga malam hari. “Yang paling sering dicari mahasiswa itu vitamin, parasetamol, obat lambung, sama permen hisap,” kata Fenty.

Fenty menilai tidak semua mahasiswa datang untuk berkonsultasi. Sebagian langsung menyebutkan obat yang ingin dibeli, meski pemahaman tentang fungsi obat kerap tidak tepat. Ia mencontohkan, ada mahasiswa yang membeli parasetamol dengan alasan untuk flu dan batuk, padahal obat itu ditujukan untuk demam atau nyeri. Meski begitu, apotek tetap memberikan edukasi dan layanan swamedikasi sesuai prosedur.

Ia juga menyoroti kecenderungan penyalahgunaan obat batuk dan flu yang dijual bebas, seperti Intunal atau obat cair tertentu. Dalam beberapa kasus, obat tersebut dikonsumsi bukan untuk meredakan gejala flu, melainkan untuk mengejar efek samping kantuk setelah begadang berhari-hari. “Mereka mengambil efek sampingnya, bukan fokus pada penyembuhan penyakitnya. Ini berbahaya karena jika dikonsumsi berlebihan, efeknya bisa seperti orang yang sedang ‘nge-fly’,” ujarnya.

Situasi serupa terlihat di Apotek YK di kawasan ruko UMY, Tamantirto. Asisten apoteker Alifvia Yunika Pratiwi (25) menyebut keluhan mahasiswa umumnya ringan, tetapi cenderung berulang, seperti flu, batuk, sakit tenggorokan, dan pusing. Ia mengatakan sebagian mahasiswa sudah memahami obat yang dibutuhkan, sementara yang lain masih memerlukan penjelasan mengenai dosis dan efek samping.

Alifvia mengaku beberapa kali harus berdebat dengan mahasiswa yang bersikeras membeli obat resep tanpa resep dokter. Obat yang paling sering diminta adalah antibiotik. Ia menyebut banyak mahasiswa, terutama yang berasal dari luar wilayah Yogyakarta, terkejut karena antibiotik tidak bisa dibeli bebas. Alifvia menegaskan antibiotik yang tidak dihabiskan atau dikonsumsi tanpa indikasi medis yang tepat dapat memicu resistensi bakteri.

Selain persoalan obat, Alifvia menyoroti pola makan mahasiswa perantauan yang dinilai sembarangan. Ia menyebut ada mahasiswa yang mengalami asam urat setelah terlalu banyak mengonsumsi jeroan atau makanan olahan kacang-kacangan secara berlebihan. Menurutnya, edukasi kesehatan dasar—termasuk aturan minum obat dan potensi efek samping—penting karena mahasiswa kerap tidak membaca label obat dengan teliti.

Keluhan kesehatan akibat pola hidup tidak teratur juga dialami Maliha Atsaqif (19), mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Ia mengaku mengalami demam, tenggorokan tidak nyaman, batuk, dan pilek sejak beberapa hari terakhir, yang berbarengan dengan kebiasaan begadang demi tugas dan mengejar tenggat. Dalam sepekan terakhir, ia hampir setiap hari tidur larut malam dan harus bangun pagi untuk kuliah. “Saya mulai merasa tidak enak badan sekitar tiga hari lalu. Awalnya cuma pilek, tapi kemudian disertai batuk dan demam,” katanya.

Maliha mengatakan beberapa temannya juga mengalami keluhan serupa. Ia berupaya menjaga kondisi dengan makan lebih teratur, memperbanyak minum air putih, dan mencuri waktu istirahat meski belum maksimal. Ia mengaku tidak rutin mengonsumsi vitamin, dan biasanya baru minum vitamin C saat mulai merasa kurang enak badan. Untuk keluhan ringan, ia memilih membeli obat sendiri di apotek, lalu memutuskan ke dokter jika kondisi tidak membaik.

Dokter umum di klinik kampus, dr. Pranoto Wibisono (27), menilai ada pergeseran perilaku mahasiswa dalam mencari kesembuhan. Ia menyebut banyak mahasiswa kini mengambil langkah sebaliknya: sakit terlebih dahulu, membeli obat sembarangan di apotek atau warung kelontong, lalu datang ke dokter ketika kondisi memburuk. Menurutnya, kebiasaan tersebut membuat gejala penyakit menjadi tidak jelas karena pasien sudah mencoba berbagai obat tanpa diagnosis.

Dr. Pranoto menegaskan gaya hidup menjadi penyebab utama penurunan kesehatan mahasiswa. Ia menyoroti dampak tidur terhadap sistem kekebalan tubuh dan pengaturan emosi. “Jangan bangga dengan begadang. Begadang yang berlebihan menurunkan daya ingat dan membuat performa akademik justru menurun,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahaya jangka panjang konsumsi obat penghilang rasa sakit secara terus-menerus tanpa pengawasan medis, karena beberapa obat kimia yang digunakan dalam jangka panjang tanpa regulasi dapat memicu kondisi serius seperti anemia aplastic.

Di sisi lain, Fenty dan Alifvia menyarankan mahasiswa lebih mengandalkan suplemen seperti vitamin C atau B-Complex untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh, ketimbang mencari obat-obatan kuat saat mulai merasa tidak sehat. Dr. Pranoto pun menutup pesannya dengan pengingat sederhana: “Sehat itu mahal harganya. Jika sudah tahu gaya hidup tidak sehat, setidaknya jangan lupa untuk tidur tepat waktu dan jangan menunda makan.”