Laporan World Economic Forum pada akhir 2025 menyoroti lonjakan konten akal imitasi generatif yang memicu fenomena AI slop di ruang digital. Istilah ini merujuk pada banjir konten bermutu rendah yang diproduksi massal oleh akal imitasi tanpa pengawasan manusia.
Di tengah arus informasi tersebut, jurnalisme cek fakta berperan membantu publik memilah informasi. Namun, banjir konten sintetis membuat kerja verifikasi semakin berat. Tim Cek Fakta Tempo yang berdiri sejak 2018 menyebut tantangan kian terasa sejak 2024, ketika disinformasi berbasis akal imitasi semakin sulit dikenali.
Untuk merespons situasi itu, kapasitas tim diperkuat melalui berbagai langkah, mulai dari mengikuti pelbagai kursus, mengeksplorasi alat deteksi, hingga memperluas jejaring verifikasi. Keterampilan ini terus diperbarui seiring teknologi akal imitasi yang semakin canggih.
Meski demikian, membongkar disinformasi berbasis akal imitasi bukan pekerjaan instan. Tidak ada satu cara tunggal untuk memverifikasi keaslian konten. Prosesnya membutuhkan kerja kreatif dan sikap pantang menyerah. Pendekatan ini juga dapat diadopsi publik agar tidak mudah tertipu.
Secara umum, tim Cek Fakta Tempo memiliki empat tahap untuk membongkar disinformasi AI. Pada edisi pertama, mereka membagikan sejumlah cara menganalisis konten AI secara manual yang dapat dipelajari dan dilatih secara berkala.
Metode manual ini diakui memiliki keterbatasan karena hasil AI semakin realistis. Namun, konten buatan mesin masih kerap menyisakan kecacatan visual yang bisa dikenali. Selain itu, perusahaan AI juga disebut berupaya memberikan penanda pada konten yang dihasilkan produknya.
Berikut sejumlah tips mendeteksi visual AI secara manual berdasarkan pengalaman Tempo dan diolah dari berbagai sumber:
1. Teliti tanda air (watermark)
Periksa apakah foto atau video memuat tanda khusus. Peranti akal imitasi generatif seperti “Sora” dan “Meta AI” biasanya menyematkan identitas pada konten yang dihasilkan mesin.
2. Cermati bagian keterangan
Sejumlah platform media sosial mewajibkan pengguna menyertakan label akal imitasi pada konten sintetis. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan karena ada konten tanpa label yang dapat lolos moderasi.
3. Perhatikan detail kecil
Akal imitasi kerap gagal mengolah detail pada tangan, wajah, dan tekstur. Indikasinya bisa berupa anatomi jari yang berlebih, jumlah gigi tidak wajar, atau tekstur kulit yang terlalu mulus seperti lilin.
4. Waspadai pola dan pencahayaan yang janggal
Amati pola yang aneh, pencahayaan yang tidak realistis, tulisan yang tidak masuk akal, atau benda-benda yang terasa tidak selaras dengan konteks.
5. Amati gerak tubuh pada video
Dalam video, AI sering kesulitan menangkap detail halus perilaku tubuh. Perhatikan gerakan yang kaku, patah-patah, atau kedipan mata yang tidak konsisten.
6. Cek anomali pada objek
Perhatikan objek yang tiba-tiba muncul, lenyap, atau berubah bentuk secara tidak masuk akal.
7. Periksa kesesuaian suara dan gerak bibir
Jika suara tidak sinkron dengan gerakan bibir atau gerak tubuh, hal itu bisa menjadi indikasi video dibuat atau dimanipulasi oleh AI.
Dalam sepekan terakhir, Tempo mencatat klaim yang beredar di media sosial didominasi isu perang Iran-Israel dan Amerika. Tempo mengarahkan pembaca ke kanal Cek Fakta untuk melihat hasil pemeriksaan klaim-klaim tersebut.

