Banjir kembali merendam Jakarta dan berdampak pada puluhan RT. Aktivitas warga terganggu, sementara sebagian masyarakat terpaksa bertahan di pengungsian. Di tengah perhatian pada genangan dan kerusakan, muncul ancaman lain yang kerap luput dibahas: risiko kesehatan publik yang dapat membesar setelah bencana.
Sejumlah laporan pemberitaan mencatat banjir sempat merendam sedikitnya 45 RT di berbagai wilayah Jakarta. Dampaknya tidak hanya pada mobilitas dan permukiman, tetapi juga pada distribusi fasilitas, termasuk penyimpanan obat-obatan. Kondisi ini menegaskan bahwa saat bencana terjadi, layanan kesehatan menjadi salah satu sektor yang paling rentan terdampak.
Meski air banjir dapat surut dalam hitungan hari, keluhan kesehatan sering justru muncul belakangan. Warga mulai merasakan berbagai gangguan, seperti gatal-gatal, demam, batuk, hingga kelelahan ekstrem, setelah situasi terlihat membaik. Pola ini membuat banjir tidak berhenti sebagai persoalan air masuk ke rumah, melainkan berlanjut menjadi ancaman bagi keselamatan.
Dalam situasi pascabanjir, terdapat sejumlah penyakit yang kerap menyerang korban, terutama anak-anak. Lima di antaranya adalah diare, penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), leptospirosis, dan demam berdarah. Tantangannya, gejala awal sering dianggap ringan sehingga penanganan terlambat dilakukan.
Dampak banjir juga tidak hanya menyasar kondisi fisik. Banjir dan perubahan iklim disebut memiliki risiko tinggi terhadap kesehatan mental. Rasa cemas, stres berkepanjangan, trauma, hingga kelelahan emosional dapat dialami warga, terutama mereka yang berulang kali menjadi korban. Hilangnya rasa aman di rumah sendiri dapat meninggalkan beban psikologis yang tidak kalah berat dibanding kerusakan materi.
Laporan dari lapangan menunjukkan kebutuhan warga di pengungsian tidak sebatas makanan. Sejumlah warga berharap memperoleh selimut dan obat-obatan sebagai bagian dari perlindungan kesehatan. Di sisi lain, dapur umum mendapat apresiasi, namun muncul pula desakan agar layanan kesehatan darurat dievaluasi dan diperkuat.
PMI dan relawan kesehatan dilaporkan telah turun membantu. Namun, skala persoalan yang muncul dari banjir berulang menunjukkan pendekatan yang hanya bersifat reaktif dinilai belum memadai. Kesiapsiagaan kesehatan, termasuk dukungan obat dan layanan medis, menjadi elemen yang perlu diperhitungkan sejak awal.
Selama ini, banjir kerap dibahas sebagai persoalan teknis seperti drainase, pompa air, dan normalisasi sungai. Padahal, rangkaian dampak yang muncul memperlihatkan banjir juga merupakan krisis kesehatan publik. Jika banjir terus berulang tanpa strategi kesehatan yang matang, yang terancam bukan hanya rumah dan kendaraan, tetapi juga ketahanan tubuh anak-anak, keselamatan lansia, stabilitas mental keluarga, serta akses terhadap obat dan layanan medis.
Banjir Jakarta, dengan demikian, tidak sekadar genangan yang dilupakan setelah air surut. Peristiwa ini menjadi pengingat tentang rapuhnya perlindungan kesehatan masyarakat saat bencana datang, sekaligus menegaskan perlunya melihat banjir sebagai isu multidimensi yang menyangkut kesehatan dan martabat warga.

