Bangun Bangsa Conference 2026 resmi dimulai di Menara Bank Mega, Jakarta, pada Kamis (6/8). Konferensi ini mengangkat tiga aspek utama, yakni community investment, designing community, serta investment for social impact.
Dalam sambutan pembukaan, Presiden Direktur Bentoel William Lumentut mengatakan Bangun Bangsa Conference merupakan agenda sosial yang menjadi komitmen jangka panjang perusahaan untuk menghadirkan dampak sosial yang lebih bermakna melalui aksi kolektif berbagai pihak.
Ia menjelaskan, agenda ini digelar untuk meningkatkan kapasitas komunitas masyarakat yang masih hidup dalam kesulitan, agar memiliki keahlian, keyakinan terhadap kemampuan masing-masing, serta peluang ekonomi yang lebih baik.
Menurut William, program ini bermula di Malang pada 2024 sebagai uji awal. Ia menyebut, dengan dukungan berbagai pihak, agenda tersebut kemudian meluas pada tahun berikutnya dan telah menjangkau empat kota dan kabupaten di Indonesia, dengan jumlah penerima manfaat lebih dari 200 orang.
William juga menilai pembangunan dan ekonomi Indonesia telah mengalami banyak kemajuan. Namun, ia menekankan masih ada tantangan yang perlu diselesaikan, termasuk persoalan sosial ekonomi seperti kesenjangan peluang ekonomi, akses peningkatan kapasitas, dan jalan untuk memperoleh mata pencaharian yang layak.
Karena itu, ia menyatakan pendekatan perlu diperbarui dan kolaborasi harus dilakukan dengan melibatkan banyak pihak, ilmu, hati, serta aksi nyata. Ia menambahkan, pola pembangunan juga perlu bergeser dari fokus pada pembangunan fisik menuju fokus pada manusia, masyarakat, dan komunitas dengan dampak berkelanjutan sebagai tujuan utama.
“Karena itu, pendekatan lama tidak cukup. Kita butuh sudut pandang yang beda dalam pembangunan sosial kali ini. Bukan hanya memberikan bantuan, namun kita perlu membantu membuka peluang,” kata William.
Melalui pelaksanaan Bangun Bangsa Conference 2026, ia berharap sudut pandang dan pendekatan yang digunakan lembaganya dalam menyusun solusi yang lebih efektif serta investasi sosial berdampak nyata dapat disatukan. Ia juga berharap konferensi ini menjadi titik awal aksi kolektif lanjutan yang mampu menghasilkan solusi nyata bagi komunitas di Indonesia.