Afriansyah Minta Efisiensi Anggaran Tak Jadi Alasan Hentikan Proyek Fisik di Tebo

Afriansyah Minta Efisiensi Anggaran Tak Jadi Alasan Hentikan Proyek Fisik di Tebo

Aktivis dan pemerhati pembangunan di Kabupaten Tebo, Afriansyah, menilai efisiensi anggaran tidak semestinya dijadikan alasan untuk menghapus pembangunan infrastruktur fisik pada tahun anggaran 2026. Ia mendorong Bupati Tebo melakukan reformasi pengelolaan proyek daerah dengan prinsip transparansi, efisiensi, dan integritas demi kepentingan masyarakat.

Pernyataan itu disampaikan Afriansyah kepada sejumlah media pada Minggu (19/10/2025). Ia menyebut adanya pengurangan dana Transfer ke Daerah (TKD) untuk Kabupaten Tebo sekitar Rp190 miliar, namun menurutnya hal tersebut tidak berarti pembangunan harus berhenti total. Afriansyah berpendapat proyek infrastruktur masih memungkinkan dilaksanakan apabila pengelolaan anggaran dilakukan secara bersih dan efisien.

“Kalau Bupati berani membuat terobosan dan meninggalkan kebiasaan lama, proyek fisik tetap bisa jalan meski anggaran berkurang dari pusat,” kata Afriansyah.

Ia menyoroti praktik “setoran” atau fee proyek dari rekanan kepada oknum pejabat di Organisasi Perangkat Daerah (OPD) maupun kepala daerah, yang disebutnya sudah menjadi rahasia umum. Menurut Afriansyah, setoran sebesar 15 hingga 20 persen dari nilai proyek kerap dianggap hal biasa.

“Setoran 15 sampai 20 persen dari nilai proyek itu sudah dianggap hal biasa. Nah, kalau itu dihapus, maka otomatis anggaran bisa efisien tanpa perlu mengorbankan pembangunan,” ujarnya.

Afriansyah juga mengusulkan langkah konkret berupa pembukaan lelang secara transparan serta meniadakan praktik tender atau penunjukan langsung yang dikondisikan untuk pihak tertentu. Ia menilai persaingan yang sehat akan mendorong penawaran harga lebih rendah dan berdampak pada efisiensi anggaran.

“Hilangkan pengaturan tender, sehingga semua perusahaan jadi bersaing harga penawaran untuk mendapatkan paket tender. Kalau tidak ada setoran, otomatis rekanan bisa menawar harga lebih rendah, bisa banting harga sampai 15–20 persen dari nilai proyek. Itu artinya, tanpa setoran pun proyek tetap bisa berjalan dan hasilnya justru lebih berkualitas,” kata Afriansyah.