Smart Grid Dinilai Jadi Kunci Modernisasi Sistem Kelistrikan Indonesia

Smart Grid Dinilai Jadi Kunci Modernisasi Sistem Kelistrikan Indonesia

Pemadaman listrik besar yang terjadi pada 4 Agustus 2019 di Jakarta dan sejumlah kota di Jawa akibat gangguan jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV kembali diangkat sebagai pengingat pentingnya modernisasi sistem kelistrikan. Gangguan tersebut dilaporkan berdampak luas, mulai dari aktivitas ekonomi, transportasi publik, hingga layanan komunikasi dan sejumlah layanan berbasis digital.

Dalam tulisan opini yang memotret insiden itu, kelistrikan juga disebut sebagai elemen krusial bagi keamanan nasional. Ketika pasokan listrik tidak andal, pusat kendali komunikasi, sistem pemantauan, dan infrastruktur vital lainnya berpotensi terganggu sehingga dapat memengaruhi stabilitas operasional di berbagai sektor strategis.

Konsep smart grid atau jaringan listrik cerdas dipandang dapat membantu mencegah atau mempercepat penanganan gangguan serupa melalui otomatisasi pemulihan jaringan, redistribusi listrik, serta deteksi dini berbasis teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI). Tanpa modernisasi, sistem kelistrikan Indonesia dinilai akan terus menghadapi tantangan terkait keandalan dan efisiensi pasokan.

Smart grid dijelaskan sebagai sistem kelistrikan modern yang mampu beradaptasi secara otomatis terhadap perubahan konsumsi listrik, gangguan sistem, serta integrasi energi terbarukan. Berbeda dengan jaringan konvensional, smart grid mengandalkan teknologi digital untuk memungkinkan pemantauan dan pengelolaan sistem listrik yang lebih efisien dan responsif.

Sejumlah karakteristik utama smart grid yang disoroti meliputi kemampuan interaktif dan real-time yang menghubungkan data konsumsi listrik dengan pusat kontrol, efisiensi energi melalui penyesuaian pasokan secara dinamis, resiliensi tinggi untuk mengurangi risiko pemadaman lewat distribusi yang lebih fleksibel, serta dukungan integrasi energi terbarukan seperti surya, angin, dan baterai tanpa mengganggu stabilitas jaringan.

Dalam konteks kebutuhan Indonesia, smart grid disebut menawarkan digitalisasi dan otomatisasi jaringan agar respons terhadap gangguan maupun perubahan konsumsi listrik dapat berlangsung lebih cepat. Pemantauan real-time berbasis AI di pembangkit, misalnya, dinilai memungkinkan penyesuaian output sesuai permintaan untuk menghindari kelebihan produksi sekaligus menjaga stabilitas jaringan.

Pada sisi distribusi, smart grid digambarkan dapat membantu mengurangi risiko overload saat permintaan meningkat dengan mengalokasikan listrik lebih efisien. Sementara itu, penerapan Internet of Things (IoT) melalui perangkat seperti smart meter disebut dapat membantu pelanggan memantau konsumsi listrik secara real-time sehingga mendorong penggunaan energi yang lebih hemat dan terkontrol.

Digitalisasi juga dinilai membuat integrasi energi terbarukan lebih fleksibel. Tenaga surya dan angin dapat terhubung lebih optimal ke jaringan utama, mendukung transisi energi bersih tanpa mengorbankan keandalan pasokan.

Meski disebut belum sepenuhnya menerapkan smart grid, Indonesia dinyatakan telah memulai sejumlah inisiatif awal. Salah satu contoh yang disampaikan adalah penghitungan carbon credit dari listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) yang masuk ke jaringan PLN.

Hingga Maret 2025, PLN Indonesia Power dilaporkan telah menjual sertifikat karbon sebesar 39.265 ton CO2 ekuivalen melalui Bursa Karbon Indonesia (IDX Carbon). Capaian tersebut disebut menandai mulai terintegrasinya mekanisme pengurangan emisi dalam operasional sistem kelistrikan, sejalan dengan upaya transisi energi bersih.

Selain itu, PLN juga disebut menjalankan sejumlah inisiatif yang mendukung penerapan smart grid, antara lain peningkatan efisiensi jaringan melalui digitalisasi dan pemantauan berbasis AI, pengembangan sistem perdagangan karbon untuk memperkuat insentif energi hijau, serta penerapan teknologi energi bersih pada pembangkit berbasis EBT.

Penulis opini menilai modernisasi sistem kelistrikan berbasis teknologi perlu menjadi prioritas kebijakan nasional. Digitalisasi dipandang tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga mendukung stabilitas dan responsivitas distribusi listrik, membuat konsumsi energi lebih terkendali, serta meningkatkan daya tarik investasi pada kelistrikan hijau.

Dengan fondasi yang dinilai telah mulai terbentuk, percepatan transformasi smart grid disebut menjadi langkah penting agar Indonesia tidak tertinggal dalam perubahan industri kelistrikan berikutnya.