Tepat satu bulan setelah serangan 7 Oktober oleh kelompok perjuangan pembebasan Palestina, Hamas, terhadap Israel, serangan berkepanjangan Israel ke Jalur Gaza terus berlangsung. Situasi ini dilaporkan menimbulkan kerugian besar dan memakan banyak korban sipil. Reaksi keras pun muncul di berbagai negara, termasuk kecaman yang menilai tindakan Israel sebagai pelanggaran hukum internasional.
Di tengah eskalasi tersebut, komunitas internasional—bersama sejumlah negara dan organisasi—mendesak kedua pihak menghentikan pertempuran dan mencapai gencatan senjata. Harapan akan pembebasan rakyat Palestina dan perdamaian berkelanjutan terus disuarakan. Namun, konflik ini dipandang kompleks sehingga upaya penyelesaian disebut membutuhkan negosiasi berkelanjutan serta komitmen dari semua pihak terkait.
Untuk membantu memahami akar konflik yang berkepanjangan ini, tulisan opini tersebut mengusulkan pendekatan yang tidak biasa: mengaitkannya dengan serial anime dan manga populer, One Piece. Tujuannya, antara lain, untuk menarik perhatian sebagian kalangan milenial yang dinilai apatis atau kurang memiliki literasi terhadap isu Palestina-Israel. Meski tidak memiliki hubungan langsung, analogi dari dunia fiksi dianggap dapat menyoroti sejumlah aspek mendasar dari konflik di dunia nyata.
Penulis menekankan bahwa konflik Palestina-Israel memiliki banyak dimensi—mulai dari sejarah, agama, etnis, politik, hingga sosial. Dalam dunia One Piece yang diciptakan Eiichiro Oda, keragaman karakter, budaya, dan latar belakang juga menjadi elemen penting. Dari situ, ditarik kesamaan umum bahwa konflik, baik di dunia nyata maupun fiksi, kerap berawal dari perbedaan yang memunculkan ketidaksetaraan dan ketegangan.
Salah satu analogi yang diangkat adalah karakter Monkey D. Luffy yang disebut dapat merepresentasikan Hamas. Dalam cerita, Luffy digambarkan berjuang mencapai keadilan, membebaskan kawan-kawannya dari situasi yang tidak adil, dan mengejar cita-cita menjadi Raja Bajak Laut. Analogi ini digunakan untuk menggambarkan hasrat banyak warga Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan dan hak-hak dasar yang telah lama diinginkan.
Opini tersebut juga menyoroti bahwa, sebagaimana dalam konflik Palestina-Israel, rakyat sipil dalam dunia One Piece kerap menjadi pihak yang paling menderita. Mereka terjebak dalam situasi yang tidak dipilih dan menanggung kerugian besar. Dari analogi itu, penulis menekankan pentingnya perlindungan hak asasi manusia serta kesejahteraan warga sipil di tengah konflik.
Selain faktor internal, tulisan itu menyoroti pengaruh pihak luar. Dalam One Piece, berbagai faksi dan negara digambarkan terlibat dalam negosiasi maupun diplomasi. Hal ini diparalelkan dengan upaya diplomasi di dunia nyata yang dilakukan sejumlah pihak untuk mencari solusi damai, meski penulis menilai ada pula pihak-pihak yang terkesan tidak ingin konflik yang panjang ini segera berakhir.
Konflik Palestina-Israel, menurut tulisan tersebut, juga dipengaruhi aktor eksternal yang memainkan peran dalam dinamika konflik. Amerika Serikat, bersama beberapa negara sekutu, disebut memiliki peran utama dalam upaya penyelesaian konflik sekaligus dukungan terhadap salah satu pihak. Dalam analogi One Piece, peran itu digambarkan melalui figur-figur yang dianggap memiliki kendali di balik layar.
Penulis kemudian mengajukan tiga padanan utama. Pertama, World Government disamakan dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai entitas yang berupaya menengahi konflik dan menyediakan ruang negosiasi. Namun, opini tersebut juga mencatat adanya kekecewaan sebagian masyarakat yang menilai PBB seolah menutup mata terhadap penderitaan rakyat Palestina.
Kedua, Five Elders atau Gorosei dianalogikan dengan negara-negara pemegang hak veto di PBB: Amerika Serikat, Rusia, China, Prancis, dan Inggris Raya. Dalam cerita, Gorosei memiliki otoritas tinggi dan memengaruhi kebijakan. Dalam konteks dunia nyata, negara-negara besar ini dinilai berpengaruh dalam urusan global dan dapat memengaruhi kebijakan maupun perjanjian yang berdampak pada perkembangan konflik, termasuk melalui dukungan finansial, persenjataan, atau dukungan politik kepada salah satu pihak.
Ketiga, Tenryuubito dianalogikan dengan Zionis Israel. Dalam One Piece, Tenryuubito digambarkan sebagai kelompok elit yang hidup mewah, bertindak sewenang-wenang, dan merampas hak warga biasa, sementara tindakan mereka disebut tidak ditanggapi serius oleh otoritas tertinggi. Penulis menggunakan analogi ini untuk menggambarkan bagaimana nasib Palestina dipengaruhi oleh Israel serta menilai respons PBB rendah dalam mencegah pelanggaran hukum internasional di Gaza.
Melalui rangkaian analogi itu, penulis menyimpulkan konflik Palestina-Israel bukan semata persoalan lokal, melainkan juga bagian dari kompleksitas geopolitik yang melibatkan kepentingan global. Intervensi dan dukungan pihak eksternal dinilai memengaruhi arah konflik maupun peluang perdamaian, sehingga upaya kolaboratif, diplomasi, dan negosiasi yang lebih efektif disebut penting untuk mencapai solusi yang adil dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, tulisan tersebut menilai analogi dengan One Piece hanya memberi gambaran kasar, tetapi diharapkan dapat membantu sebagian pembaca memahami karakter konflik yang rumit. Penulis juga menggarisbawahi pesan bahwa perubahan selalu mungkin, sebagaimana tokoh-tokoh utama dalam cerita terus berjuang menghadapi situasi sulit. Dari sana, penulis menyampaikan harapan agar konflik yang telah berlangsung lama tetap memiliki peluang menuju perdamaian dan keadilan di masa depan.

