Hoaks dapat dikaitkan dengan negara mana pun, termasuk Jepang. Di media sosial, narasi menyesatkan terkait Jepang muncul dalam beragam tema, mulai dari isu politik hingga peristiwa bencana. Berikut sejumlah klaim yang beredar beserta hasil penelusuran fakta yang menyatakan klaim-klaim tersebut tidak benar.
1. Klaim foto Presiden Prabowo meminjam dana 500,5 triliun dari Korea Selatan dan Jepang
Beredar unggahan di Facebook pada 7 Agustus 2026 yang menampilkan tangkapan layar foto artikel berlogo Kompas.com. Unggahan itu menarasikan seolah Presiden Prabowo Subianto meminjam dana 500,5 triliun dari Korea Selatan (Korsel) dan Jepang untuk melanjutkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes).
Dalam unggahan tersebut juga tercantum narasi tambahan seperti, “Uang riba emang manis tapi bayar nya akan sulit/udah di pastikan Indonesia akan bangkrut”, serta komentar akun pengunggah, “Parah ini”. Namun, hasil cek fakta menyimpulkan klaim tersebut tidak benar.
2. Klaim video Dubes Jepang akan melaporkan Rismon Sianipar terkait ijazah palsu
Sebuah video yang beredar di media sosial mengklaim Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Masaki Yasushi, akan melaporkan Rismon Sianipar ke Mabes Polri karena dugaan ijazah palsu. Salah satu unggahan ditemukan di Facebook pada 11 Juni 2025.
Video itu disertai narasi yang menyebut, “Duta Besar Jepang resmi menyampaikan bahwa ijazah resmon Sianipar palsu dan bukan lulusan Yamaguchi jepang. Kedutaan besar jepang di Jakarta akan melaporkan pemalsuan ijazah resmon Sianipar ke mabes polri.” Pengunggah juga menambahkan kalimat, “Dubes Jepang Melaporkan balik ke Mabes Polri utk Barisan Sakit Hati...”. Berdasarkan penelusuran cek fakta, klaim dalam video tersebut dinyatakan tidak benar.
3. Klaim video peristiwa gempa dan tsunami Jepang pada 1 Januari 2024
Klaim lain yang beredar adalah video yang disebut menampilkan peristiwa gempa bumi dan tsunami di Jepang pada 1 Januari 2024. Unggahan itu ditemukan di Facebook pada 3 Januari 2024.
Video memperlihatkan arus air yang menerjang bangunan dan kendaraan, disertai keterangan, “1 Januari 2024. Gempa yg di susul Tsunami di Jepang.” Namun, hasil cek fakta menyatakan klaim bahwa video tersebut merupakan peristiwa gempa dan tsunami Jepang pada tanggal itu tidak benar.
Rangkaian contoh di atas menunjukkan bahwa informasi terkait Jepang dapat dengan mudah dipelintir melalui gambar maupun video yang diberi narasi tertentu. Masyarakat diimbau untuk memeriksa konteks dan kebenaran informasi sebelum membagikannya kembali.