Sebuah tangkapan layar berisi judul artikel yang mengklaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengajak suku Batak mengikuti program wajib militer beredar di media sosial. Klaim tersebut juga menyebut ajakan itu dilakukan karena Israel kekurangan prajurit untuk perang.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, konten yang beredar merupakan hasil manipulasi. Narasi ini juga terindikasi sebagai satire, namun dinilai perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Unggahan yang beredar menampilkan tangkapan layar seolah-olah berasal dari laman Kompas TV dengan judul “Israel Kekurangan Prajurit saat Perang, Netanyahu Mengajak Suku Batak untuk mengikuti Program Wajib Militer”, dan diklaim terbit pada 28 Maret 2026.
Namun, setelah ditelusuri, tidak ditemukan artikel di laman Kompas TV yang memuat pernyataan Netanyahu mengajak suku Batak mengikuti program wajib militer untuk membantu Israel.
Penelusuran menggunakan teknik reverse image search menunjukkan bahwa foto dan tanggal terbit pada unggahan tersebut identik dengan artikel Kompas TV lainnya. Artikel yang dimaksud berjudul “Israel Kekurangan Prajurit saat Perang, Netanyahu Bakal Perluas Program Wajib Militer”.
Dalam artikel asli itu, Netanyahu disebut menyampaikan rencana perluasan program wajib militer, termasuk untuk kelompok Yahudi Ultra-Ortodoks. Langkah tersebut dikaitkan dengan laporan bahwa Angkatan Bersenjata Israel kekurangan prajurit.
Menurut lembaga penyiaran Israel, KAN, pernyataan itu disampaikan Netanyahu dalam rapat kabinet keamanan pada Kamis (26/3/2026). Tidak ada informasi dalam artikel tersebut yang menyebut Netanyahu mengajak suku Batak mengikuti program wajib militer.
Kompas.com juga mencatat, sebelumnya sempat beredar konten manipulasi lain di media sosial yang mengklaim Netanyahu menyatakan suku Batak merupakan bagian dari Israel. Narasi yang beredar belakangan ini disinyalir sebagai konten satire atau lelucon yang menanggapi situasi di Timur Tengah, terutama terkait dukungan terhadap Israel.
Kesimpulannya, judul artikel yang menyebut Netanyahu mengajak suku Batak mengikuti program wajib militer merupakan konten hasil manipulasi. Artikel yang asli membahas rencana perluasan wajib militer di Israel, termasuk untuk kelompok Yahudi Ultra-Ortodoks.

