Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan impor bahan bakar minyak (BBM) Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia, bukan dari Timur Tengah, sehingga dinilai tidak berkaitan dengan Selat Hormuz. Klaim tersebut disampaikan dalam sebuah podcast Kementerian ESDM.
Namun, penelusuran tim Cek Fakta DW menilai pernyataan itu patut dipertanyakan. Meski Indonesia memang mengimpor BBM dari Singapura dan Malaysia, kedua negara tersebut disebut masih bergantung pada impor minyak mentah dari Timur Tengah untuk diolah menjadi BBM. Ketergantungan ini membuat rantai pasok BBM yang masuk ke Indonesia berpotensi tetap terhubung, meski tidak secara langsung, dengan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Dalam laporan yang sama, disebutkan pula bahwa sejumlah kilang di Singapura dan Malaysia sempat mengurangi kapasitas produksi akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa dinamika pasokan di kawasan Timur Tengah dapat memengaruhi ketersediaan produk olahan minyak di negara-negara yang menjadi pemasok BBM ke Indonesia.
Tim Cek Fakta DW mencatat, keterbatasan data membuat rantai pasok langsung menuju Indonesia sulit dipastikan secara rinci. Meski demikian, terdapat indikasi keterkaitan tidak langsung dengan Timur Tengah melalui mekanisme rantai pasok global energi.
Selain itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 juga mencatat negara-negara Timur Tengah sebagai eksportir produk olahan minyak ke Indonesia. Catatan ini memperkuat kesimpulan bahwa pasokan BBM Indonesia tidak sepenuhnya terlepas dari kawasan tersebut.
Berdasarkan temuan itu, klaim bahwa impor BBM Indonesia tidak ada hubungannya dengan Selat Hormuz dinilai menyesatkan karena tetap ada keterkaitan dalam rantai pasok energi global.

