MERENUNGKAN PUISI ESAI SEBAGAI SOFT POWER

MERENUNGKAN PUISI ESAI SEBAGAI SOFT POWER

* Tesis S2 Jasni Matlani Tentang Puisi Esai Denny JA di Universitas di Malaysia

Oleh Denny JA

Suatu sore di Kuala Lumpur, seorang peneliti dari Sabah duduk sendirian di depan tumpukan halaman yang dipenuhi kisah korban kerusuhan, pengungsi, cinta yang terhalang identitas, dan manusia yang terluka oleh sejarah.

Di luar jendela, dunia sibuk dengan perebutan kekuasaan, kampanye politik, dan pertarungan kepentingan. Namun di meja kerjanya lahir pertanyaan yang jauh lebih sunyi: mungkinkah sastra meninggalkan jejak yang lebih panjang daripada politik?

-000-

Ketika pertama kali mendengar bahwa ada tesis S2 di Malaysia yang secara khusus meneliti puisi esai saya, yang muncul bukanlah rasa bangga. Yang hadir justru rasa ingin tahu.

Apa yang sebenarnya ditemukan seorang peneliti ketika membaca puluhan puisi esai yang saya tulis selama lebih dari satu dekade? Apakah ia menemukan sekadar eksperimen sastra? Ataukah ia menemukan sesuatu yang lebih besar dari itu?

Tesis tersebut ditulis oleh Jasni Matlani, penyair, budayawan, aktivis sastra, presiden komunitas Puisi Esai ASEAN, dan peneliti dari Sabah, Malaysia.

Ia menyelesaikan studi Sarjana Pengajian Melayu di Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya, Kuala Lumpur, pada tahun 2026. Judul tesisnya panjang, tetapi gairah risetnya jauh lebih besar daripada judulnya:

“Diplomasi Sastera Berasaskan Nilai Cinta dan Kemanusiaan dalam Puisi Esei Denny JA: Perspektif Teori Kuasa Insani Joseph Nye.”

Pada dasarnya, Jasni ingin menjawab satu pertanyaan yang selama ini jarang diajukan secara serius dalam studi sastra: bisakah karya sastra menjadi instrumen soft power yang mengubah cara manusia memandang sesamanya?

Untuk menjawabnya, ia meneliti 32 puisi esai dari tiga buku saya: Atas Nama Cinta (2012), Roti untuk Hati (2015), dan Jeritan Setelah Kebebasan (2022).

Ia menggunakan teori Soft Power Joseph Nye, teori yang biasanya dipakai untuk menjelaskan pengaruh Hollywood, anime Jepang, atau K-Pop Korea Selatan. Namun kali ini teori itu digunakan untuk membaca puisi esai.

Kesimpulannya menarik. Jasni berpendapat bahwa puisi esai dapat berfungsi sebagai diplomasi budaya karena mampu menumbuhkan simpati, empati, penghargaan, dan penghormatan tanpa paksaan.

Itulah inti soft power. Bukan kemampuan memaksa orang lain mengikuti kita, melainkan kemampuan membuat orang lain rela mendengar kita.

-000-

Menyelami tesis ini, saya menemukan tiga gagasan utama.

GAGASAN PERTAMA: PUISI ESAI MENGEMBALIKAN SASTRA KEPADA PUBLIK

Temuan pertama Jasni berangkat dari kritik terhadap perkembangan puisi modern. Dalam banyak tradisi sastra kontemporer, puisi semakin menjadi percakapan eksklusif antar penyair. Bahasa semakin abstrak. Simbol semakin rumit. Banyak pembaca biasa merasa tersisih dari rumah yang seharusnya juga milik mereka.

Menurut Jasni, puisi esai hadir sebagai respons terhadap situasi tersebut. Ia memadukan fakta sosial dengan kekuatan puisi. Ia menghadirkan tokoh, konflik, dan peristiwa yang nyata, namun tetap mempertahankan keindahan bahasa dan kedalaman emosi.

Dalam perspektif ini, puisi esai bukan sekadar inovasi bentuk. Ia merupakan upaya demokratisasi sastra. Sastra kembali hadir di tengah masyarakat, bukan hanya di ruang seminar, jurnal akademik, atau komunitas sastra terbatas.

Temuan ini penting karena menyentuh fungsi terdalam sastra. Sastra bukan sekadar permainan estetika. Sastra adalah jembatan emosi yang memungkinkan seseorang memahami penderitaan yang tidak pernah ia alami sendiri.

Ia membuat pembaca ikut menangis bersama korban yang tak pernah ditemuinya. Ia membuat pembaca merasakan luka orang lain sebagai bagian dari kemanusiaannya sendiri.

Karena itu, keberhasilan puisi esai bukan terutama terletak pada kebaruannya sebagai genre. Keberhasilannya terletak pada kemampuannya menghubungkan manusia dengan manusia lain.

Tentu, banyak kritikus menilai puisi esai terlalu didesain, terlalu naratif, bahkan ditopang promosi agresif sehingga keartistikannya diragukan dan dampak empatiknya dianggap artifisial.

Namun justru melalui pembacaan lintas negara seperti tesis ini, kita melihat bahwa resonansi kemanusiaannya bekerja melampaui perdebatan istilah dan strategi.

-000-

GAGASAN KEDUA: CINTA DAN KEMANUSIAAN LEBIH DALAM DARIPADA IDENTITAS

Inilah inti terdalam tesis Jasni.

Ia menemukan bahwa hampir seluruh puisi esai yang ditelitinya berputar pada dua tema besar: cinta dan kemanusiaan tanpa diskriminasi. Tema itu muncul dalam berbagai konflik sosial, agama, etnis, dan politik.

Ada Muslim dan Kristen. Ada Dayak dan Madura. Ada Tionghoa dan pribumi. Ada mayoritas dan minoritas.

Namun konflik-konflik tersebut tidak pernah menjadi tujuan akhir cerita. Konflik hanyalah panggung. Yang menjadi pusat perhatian selalu manusia.

Jasni menunjukkan bahwa air mata seorang ibu tidak memiliki agama. Kesedihan seorang ayah tidak memiliki etnis. Kehilangan seorang anak tidak mengenal batas negara. Pada titik terdalam pengalaman manusia, identitas menjadi lebih kecil dibandingkan kemanusiaan itu sendiri.

Karena itu cinta dalam puisi esai tidak terbatas pada hubungan romantis. Ia mencakup cinta keluarga, cinta kepada sesama manusia, cinta kepada bangsa, cinta kepada Tuhan, dan cinta kepada mereka yang berbeda keyakinan.

Temuan ini terasa semakin relevan di era media sosial. Teknologi membuat manusia semakin terhubung, tetapi identitas sering kali membuat manusia semakin terpecah.

Dalam keadaan seperti itu, sastra hadir sebagai pengingat bahwa sebelum kita menjadi anggota kelompok tertentu, kita terlebih dahulu adalah manusia.

Dan manusia memiliki bahasa yang sama: harapan, kehilangan, dan cinta.

-000-

Dua buku di bawah ini membantu wawasan kita mendalami tema ini.
Buku pertama berjudul Soft Power: The Means to Success in World Politics. Penulisnya Joseph S. Nye Jr.
PublicAffairs, 2004

Dalam buku ini, Joseph Nye memperkenalkan konsep soft power sebagai kemampuan memengaruhi pihak lain tanpa paksaan militer dan tanpa tekanan ekonomi. Menurut Nye, pengaruh paling efektif sering kali lahir bukan dari rasa takut, melainkan dari rasa kagum.

Budaya, nilai, pendidikan, dan karya seni dapat menjadi sumber kekuatan yang luar biasa. Ketika suatu bangsa berhasil membuat dunia mengagumi nilai yang diusungnya, bangsa itu memperoleh pengaruh yang tidak dapat dibeli dengan senjata.

Dalam konteks tesis Jasni, buku ini menjadi landasan teoritis utama. Jika Hollywood dapat menjadi soft power Amerika Serikat, jika anime dapat menjadi soft power Jepang, dan jika K-Pop dapat menjadi soft power Korea Selatan, maka pertanyaannya adalah: mengapa sastra tidak dapat menjadi soft power Indonesia?

Melalui perspektif ini, puisi esai tidak lagi dipandang hanya sebagai karya seni. Ia menjadi medium yang membawa nilai kemanusiaan melintasi batas negara, agama, dan budaya.

-000-

BUKU KEDUA: Imagined Communities Benedict Anderson, 1983.

Benedict Anderson mengemukakan gagasan revolusioner bahwa bangsa pada dasarnya adalah komunitas yang dibayangkan. Kita tidak pernah mengenal seluruh warga negara kita secara pribadi. Namun kita merasa terhubung dengan mereka melalui cerita, simbol, bahasa, dan memori bersama.

Gagasan ini sangat relevan untuk memahami puisi esai. Banyak puisi esai yang diteliti Jasni berangkat dari tragedi sejarah Indonesia: kerusuhan Mei 1998, konflik Sampit, konflik Ahmadiyah, dan berbagai luka sosial lainnya.

Ketika tragedi itu ditulis dalam bentuk puisi, ia tidak lagi menjadi sekadar data sejarah. Ia berubah menjadi pengalaman emosional yang hidup dalam kesadaran kolektif.

Melalui sastra, bangsa belajar mengingat. Melalui sastra, generasi yang tidak mengalami suatu tragedi dapat memahami penderitaan generasi sebelumnya.

Anderson membantu kita memahami bahwa bangsa tidak hanya dibangun oleh konstitusi dan institusi. Bangsa juga dibangun oleh cerita yang dipercayai bersama. Dalam konteks itu, puisi esai berfungsi sebagai penjaga ingatan kolektif.

-000-

GAGASAN KETIGA: SASTRA DAPAT MENJADI SOFT POWER YANG MENGUBAH DUNIA

Inilah kontribusi teoritis terbesar tesis Jasni.

Selama ini soft power lebih sering dibicarakan dalam konteks negara. Jasni membawa teori itu ke wilayah sastra.

Menurutnya, puisi esai dapat menjadi soft power karena menghadirkan pengalaman manusia yang universal. Ketika pembaca memahami penderitaan orang lain, ketika ia melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda, terjadi perubahan persepsi.

Dan perubahan persepsi adalah awal dari perubahan sosial.

Sastra tidak memiliki tentara. Sastra tidak memiliki anggaran pertahanan. Sastra tidak memiliki kekuatan ekonomi. Namun sastra memiliki kemampuan yang sering kali lebih sulit dicapai oleh politik: mengubah hati manusia.

Perubahan hati melahirkan perubahan cara pandang. Perubahan cara pandang melahirkan perubahan hubungan sosial. Perubahan hubungan sosial melahirkan perubahan sejarah.

Dalam pembacaan Jasni, puisi esai bukan hanya karya seni. Ia adalah diplomasi budaya yang bekerja secara perlahan, tetapi mampu meninggalkan jejak yang panjang.

Namun, ujian sejati diplomasi sastra ini terletak pada kemampuannya untuk terus hidup secara organik, melampaui figur penciptanya, dan diuji oleh waktu tanpa ketergantungan pada sokongan modal maupun promosi.

-000-

MENGAPA TESIS INI PENTING?

Pertama, tesis ini memberikan fondasi akademik yang kuat bagi studi puisi esai. Selama lebih dari satu dekade, perdebatan tentang puisi esai sering berlangsung dalam bentuk opini. Jasni membawa perdebatan itu ke ruang akademik melalui metodologi penelitian yang sistematis dan argumentasi yang terstruktur.

Kedua, tesis ini membuka wilayah baru dalam studi sastra dengan menghubungkan sastra dan hubungan internasional. Ia memperlihatkan bahwa karya sastra tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga memiliki fungsi sosial, budaya, bahkan diplomatik.

Ketiga, tesis ini membantu kita memahami Indonesia dari sudut pandang korban sejarah. Ia mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya hidup dalam arsip negara, tetapi juga hidup dalam ingatan manusia yang mengalami penderitaan secara langsung.

-000-

Saya pribadi tersentuh membaca tesis ini bukan karena tesis tersebut membahas karya saya. Yang menyentuh justru karena saya melihat bagaimana seorang peneliti dari negara lain membaca luka-luka Indonesia dengan kesungguhan yang begitu dalam.

Ketika saya menulis puisi tentang korban Mei 1998, tentang konflik Sampit, atau tentang pengungsi Ahmadiyah, saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari karya-karya itu akan dibaca sebagai soft power.

Saya hanya ingin memastikan bahwa penderitaan mereka tidak lenyap begitu saja dari ingatan kolektif.

Ada momen tertentu ketika membaca tesis itu yang membuat saya terdiam cukup lama. Saya menyadari bahwa kisah-kisah yang lahir dari luka Indonesia ternyata menemukan pembacanya di luar Indonesia.

Seorang peneliti dari Sabah membaca air mata yang jatuh di Jakarta, Sampit, Ambon, atau Lombok, lalu menemukan di dalamnya pesan kemanusiaan yang universal.

Pada saat itulah saya memahami sesuatu yang selama ini mungkin luput saya sadari. Sastra memang lahir dari tempat tertentu, tetapi kemanusiaan yang dikandungnya tidak pernah mengenal paspor.

Mungkin di situlah letak kekuatan terdalam sastra. Ia tidak selalu mengubah kebijakan negara. Ia tidak selalu mengubah jalannya sejarah secara langsung. Namun ia menjaga agar manusia tetap mengingat manusia lain.

Dan dalam dunia yang semakin cepat melupakan, kemampuan untuk mengingat adalah bentuk kemanusiaan yang paling berharga.

-000-

Pada akhirnya, tesis Jasni Matlani mengajarkan satu pelajaran yang sederhana tetapi mendalam: kekuatan terbesar sastra bukan terletak pada keindahan katanya, melainkan pada kemampuannya membuat manusia melihat sesamanya sebagai manusia.

Ketika politik membelah, ekonomi bersaing, dan identitas saling bertabrakan, sastra masih memiliki ruang untuk mempertemukan hati.

Di sanalah soft power yang paling abadi bekerja. Ia tidak memerintah. Ia tidak memaksa. Ia hanya membuat manusia lebih mampu merasakan penderitaan manusia lain.

Mungkin itulah temuan terdalam tesis ini. Sebuah puisi yang lahir dari luka seorang manusia di satu sudut Indonesia ternyata mampu menyentuh hati seorang pembaca di negeri lain. Ketika itu terjadi, puisi esai telah melampaui bahasa, agama, etnis, dan batas negara.

Dan mungkin, sepanjang sejarah peradaban, tidak ada kekuatan yang lebih besar daripada kemampuan untuk membuat manusia kembali menjadi manusia.***

Jakarta, 18 Juni 2026

REFERENSI

1. Soft Power: The Means to Success in World Politics.
Joseph S. Nye Jr.
PublicAffairs.

2. Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism.
Benedict Anderson.
Verso.