PINTU GERBANG MENUJU SAMUDRA ENERGI YANG LAIN: HIDROGEN
Oleh Denny JA
Januari 2022, sebuah kapal bernama Suiso Frontier merapat di Australia. Ia datang bukan untuk membawa minyak, batu bara, ataupun gas alam.
Di dalam perutnya tersimpan cairan bersuhu sekitar minus 253 derajat Celsius. Hidrogen cair, sebuah musim dingin ekstrem yang dikurung manusia dalam tangki.
Kapal itu kemudian berlayar menuju Jepang. Untuk pertama kalinya, liquid hydrogen menyeberangi samudra sebagai bagian dari demonstrasi rantai pasok internasional.
Muatan itu kecil dibandingkan tanker minyak raksasa. Namun sejarah tidak selalu mengetuk pintu dengan gelegar. Kadang ia datang sebagai kapal percobaan.
Ketika Suiso Frontier meninggalkan Australia, yang ikut berlayar bukan hanya hidrogen. Sebuah pertanyaan besar tentang masa depan energi ikut menyeberangi samudra.
Mungkinkah kapal sederhana itu kelak dikenang sebagai nenek moyang armada baru, seperti tanker minyak dahulu mengubah perdagangan, geopolitik, dan wajah peradaban?
-000-
Sejak hari pertama Gastech Bangkok, lalu berlanjut pada hari kedua, hidrogen hadir berulang kali dalam percakapan mengenai masa depan energi dunia.
Duduk mengikuti berbagai sesi itu, saya merasakan perubahan suasana. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah hidrogen mungkin. Pertanyaannya semakin keras: kapan ia ekonomis?
Para insinyur berbicara tentang tangki, tekanan, kapal, dan penguapan. Tetapi di balik bahasa teknis itu, sesungguhnya mereka sedang membicarakan peta peradaban.
Saya teringat minyak. Dahulu ia pun hanyalah cairan di bawah tanah, sebelum teknologi, kapal, pasar, dan politik mengubahnya menjadi darah Revolusi Industri.
Apakah hidrogen sedang berada di ambang perjalanan serupa? Belum tentu. Tetapi kemungkinan itulah yang membuat percakapan di Bangkok terasa melampaui sebuah konferensi.
Ada tiga alasan mengapa hidrogen layak memperoleh perhatian besar, meskipun kepala harus tetap dingin ketika membayangkan masa depannya yang menggoda.
Pertama, hidrogen menawarkan kelimpahan elemental yang nyaris tak terbayangkan. Ia unsur paling melimpah di alam semesta dan hadir sangat luas dalam berbagai senyawa.
Namun di Bumi, hidrogen terutama terkunci dalam air, hidrokarbon, dan senyawa lain. Kelimpahan unsur tidak boleh disamakan dengan cadangan energi siap digunakan.
Air mengandung hidrogen luar biasa banyak. Tetapi memisahkannya membutuhkan energi. Karena itu, hidrogen hasil produksi lebih tepat dipahami sebagai pembawa energi.
Maka klaim bahwa hidrogen merupakan cadangan energi puluhan kali minyak dan gas harus diperlakukan hati-hati. Perbandingan tersebut mencampurkan dua kategori berbeda.
Kedua, hidrogen mulai meninggalkan dunia presentasi dan memasuki dunia proyek. Investasi clean hydrogen yang telah committed secara global melampaui US$130 miliar pada 2026.
Lebih dari 570 proyek telah mencapai status committed. Ini belum revolusi yang selesai, tetapi sudah terlalu besar untuk sekadar disebut eksperimen laboratorium.
Teknologi liquefaction dan pengangkutan laut memperluas cakrawala tersebut. Jika LNG mengglobalisasi perdagangan gas, liquid hydrogen mencoba membuka pintu serupa bagi hidrogen.
Ketiga, Indonesia mempunyai alasan khusus untuk memperhatikannya. Di bawah tanah negeri sendiri, telah ditemukan indikasi awal mengenai keberadaan sistem natural hydrogen.
Badan Geologi menemukan rembesan dengan kandungan hidrogen sekitar 20 sampai 35 persen di Tanjung Api, Ampana, serta sekitar sembilan persen di Bahodopi.
East Sulawesi Ophiolite menarik karena serpentinisasi batuan ultramafik dapat menghasilkan hidrogen alami. Bentangan geologi Indonesia menjadikan negeri ini laboratorium raksasa yang layak diteliti.
Namun kata yang tepat saat ini adalah prospektif, bukan kaya cadangan. Rembesan membuktikan sistem hidrogen ada, tetapi belum membuktikan reservoir komersial besar.
Jalan menuju produksi masih panjang. Kita harus mengetahui sumbernya, jalur migrasinya, tempat ia terperangkap, kemampuan reservoir mengalirkannya, kemudian menghitung keekonomiannya.
Dalam eksplorasi, optimisme membuka pintu. Data menentukan apakah kita masuk.
-000-
Di antara percakapan Gastech, liquid hydrogen menarik perhatian karena ia memperlihatkan dua wajah sekaligus: kecerdikan manusia dan kerasnya hukum fisika.
Hidrogen sangat ringan. Sebagai gas, kepadatan energinya berdasarkan volume rendah. Untuk mengangkutnya dalam jumlah besar, persoalan volume segera menjadi tembok raksasa.
Salah satu jawabannya adalah liquefaction. Hidrogen didinginkan hingga sekitar minus 253 derajat Celsius, memasuki wilayah temperatur yang terasa hampir asing bagi kehidupan.
Mencairkan hidrogen memecahkan persoalan volume, tetapi sekaligus melahirkan persoalan baru: kebutuhan energi, biaya, material, keselamatan, serta penguapan selama penyimpanan dan perjalanan.
Bayangkan sebuah kapal membawa musim dingin buatan melintasi laut tropis. Setiap serpihan panas dari luar adalah penyusup yang mencoba mencuri muatannya.
Tangkinya menyerupai termos raksasa berteknologi tinggi. Lapisan ganda, ruang vakum, material kriogenik, pipa, dan struktur penyangga menjadi satu benteng melawan panas.
Pada temperatur ekstrem, material berperilaku berbeda. Logam menyusut. Molekul hidrogen sangat kecil. Kebocoran yang tampak sepele dapat berubah menjadi persoalan keselamatan serius.
Panas tetap berusaha masuk. Sebagian liquid hydrogen akhirnya menguap kembali menjadi gas. Fenomena inilah yang dikenal sebagai boil-off gas, atau BOG.
Naluri awal mengatakan seluruh BOG harus dihilangkan. Namun diskusi teknis di Bangkok memperlihatkan kenyataan yang lebih menarik, lebih kompleks, sekaligus lebih dewasa.
Tujuan ekonominya bukan mencapai penguapan nol dengan biaya berapa pun. Tujuannya membuat hidrogen tiba kepada pelanggan dengan total delivered cost terendah.
Sebagian gas yang menguap dapat dimanfaatkan kembali. Menyelamatkan setiap kilogram hidrogen justru tidak masuk akal apabila biaya penyelamatannya jauh lebih mahal.
Di sinilah engineering bertemu kebijaksanaan ekonomi. Teknologi terbaik bukan teknologi yang paling sempurna, melainkan teknologi yang menyelesaikan persoalan dengan biaya paling masuk akal.
-000-
Perjalanan liquid hydrogen kemudian berubah menjadi pertarungan panjang melawan panas. Insulasi menjadi garis pertahanan pertama agar sebanyak mungkin muatan tetap berbentuk cair.
Namun benteng yang semakin tebal mempunyai harga. Pada titik tertentu, biaya tambahan untuk mengurangi penguapan dapat lebih besar daripada nilai hidrogen yang diselamatkan.
Pengelolaan tekanan menawarkan jalan yang lebih cerdas. Tekanan dapat diatur sepanjang penyimpanan, pemuatan, perjalanan kapal, pembongkaran, hingga hidrogen tiba kepada pelanggan.
Dengan pengaturan tepat, sebagian panas dapat diterima sebagai perubahan temperatur dan tekanan, bukan seluruhnya langsung mengubah liquid hydrogen menjadi gas.
Ada pelajaran menarik di sana. Terobosan besar tidak selalu lahir sebagai mesin baru. Kadang ia hanyalah cara baru memahami perilaku alam.
Keselamatan menjadi ujian berikutnya. Kapal liquid hydrogen bukan sekadar kapal LNG dengan tangki yang dibuat jauh lebih dingin. Karakter hidrogen menuntut pendekatan berbeda.
Material harus tahan. Kebocoran harus cepat terdeteksi. Ventilasi harus bekerja. Penyebaran gas harus dipahami. Risiko kebakaran harus dimodelkan sebelum kapal meninggalkan pelabuhan.
Semuanya harus melewati desain, simulasi, pengujian, demonstrasi, sertifikasi, kemudian operasi berulang. Sebuah teknologi baru memperoleh kepercayaan setelah berhasil menghadapi kenyataan.
Sebab industri energi tidak dibangun oleh teknologi saja. Ia dibangun oleh keyakinan bahwa teknologi tetap aman ketika mesin menua dan manusia melakukan kesalahan.
-000-
Dua buku memberikan sepasang mata berbeda untuk melihat hidrogen. Yang satu mengajak kita bermimpi. Yang lain memaksa kita menghitung harga mimpi.
Jeremy Rifkin, The Hydrogen Economy: The Creation of the Worldwide Energy Web and the Redistribution of Power on Earth, Polity Press, 2002.
Rifkin melihat revolusi energi bukan sekadar pergantian bahan bakar. Batu bara, mesin uap, listrik, dan minyak masing-masing pernah mengubah struktur kekuasaan manusia.
Hidrogen, dalam imajinasinya, dapat mendorong sistem energi lebih tersebar. Karena itu, perubahan energi berpotensi sekaligus menjadi perubahan ekonomi, sosial, bahkan geopolitik.
Bagian paling berharga dari Rifkin bukan ramalan teknologinya. Ia mengingatkan bahwa setiap kali manusia mengubah sumber energi, manusia ikut mengubah peradabannya.
Membaca Rifkin memperlebar cakrawala. Pertanyaan hidrogen bukan hanya berapa dolar per kilogram, tetapi siapa menguasai teknologi, jaringan, pasar, dan nilai tambah.
-000-
Joseph J. Romm, The Hype About Hydrogen, Revised Edition: False Promises and Real Solutions in the Race to Save the Climate, Island Press, 2025.
Jika Rifkin mengajak kaki menginjak pedal gas, Romm mengingatkan keberadaan rem. Hidrogen bukan sumber energi ajaib yang tersedia gratis menunggu manusia mengambilnya.
Dua puluh empat tahun berlalu sejak Rifkin menjanjikan hydrogen economy. Sebagian besar ramalannya belum terwujud. Justru penantian panjang inilah yang membuat peringatan Romm terasa semakin bijaksana hari ini.
Hidrogen harus ditemukan atau diproduksi, kemudian dimurnikan, dikompresi atau dicairkan, disimpan, diangkut, lalu akhirnya digunakan sebagai bahan baku atau energi.
Setiap tahap membutuhkan modal. Setiap konversi membawa kehilangan energi. Infrastruktur membutuhkan pembeli, sementara calon pembeli sering justru menunggu infrastrukturnya tersedia dahulu.
Romm mengingatkan persoalan efisiensi dan kebocoran. Pesannya penting: jangan memilih hidrogen ketika elektrifikasi langsung memberikan hasil ekonomi dan energi yang lebih baik.
Dari dua buku itu lahir keseimbangan yang diperlukan. Rifkin mengajari kita membayangkan masa depan. Romm memastikan masa depan itu tetap tunduk kepada matematika.
-000-
Secara matematis, tantangan terbesar hidrogen adalah menurunkan delivered cost dari kisaran US$10–12 menjadi US$ 2 per kilogram, batas kritis agar mampu bersaing secara komersial melawan bahan bakar fosil.
Di sinilah kontra-argumen terhadap euforia hidrogen harus didengarkan. Sejarah energi dipenuhi teknologi menjanjikan yang akhirnya kandas pada karang bernama economics.
Mengapa mengubah listrik menjadi hidrogen, mencairkannya, mengangkutnya, kemudian mengubahnya kembali, apabila listrik dapat langsung digunakan atau disimpan dalam baterai?
Kritik itu benar untuk banyak penggunaan. Hidrogen tidak perlu memenangkan setiap pertandingan energi agar tetap memainkan peran penting dalam transisi energi dunia.
Kekuatannya justru berada pada wilayah ketika elektrifikasi langsung sulit dilakukan, termasuk beberapa industri berat, bahan baku kimia, serta penyimpanan energi tertentu.
Karena itu strategi terbaik bukan hydrogen everywhere. Hidrogen seharusnya ditempatkan ketika ia benar-benar menghasilkan nilai ekonomi sekaligus manfaat dekarbonisasi yang terbesar.
Teknologi sering gagal bukan karena tidak bekerja. Ia gagal karena manusia jatuh cinta kepadanya, lalu memaksanya bekerja di tempat yang tidak membutuhkannya.
-000-
Bagi Indonesia, seluruh percakapan ini terasa lebih personal. Kita sebaiknya tidak tergesa-gesa bermimpi menjadi eksportir liquid hydrogen sebelum memahami keunggulan komparatif sendiri.
Natural hydrogen layak menjadi salah satu frontier eksplorasi. Namun perjalanannya harus disiplin, dari ilmu geologi menuju pembuktian reservoir, produksi percobaan, kemudian keekonomian.
East Sulawesi Ophiolite dan kawasan geologi lain membuka kemungkinan menarik. Perusahaan upstream masa depan mungkin tidak hanya mengebor hidrokarbon, tetapi memburu molekul energi baru.
Bertahun-tahun industri minyak membangun kemampuan membaca batuan, patahan, reservoir, tekanan, dan aliran bawah tanah. Pengetahuan lama itu mungkin memperoleh kehidupan kedua.
Saya membayangkan ironi yang indah. Keahlian yang dibangun untuk mencari energi masa lalu justru dapat menjadi kompas untuk menemukan energi masa depan.
Namun jangan melompat dari rembesan menuju valuasi triliunan dolar. Industri energi mengenal disiplin sederhana: geologi memberi harapan, tetapi reservoir dan pasar memberi keputusan.
Jika natural hydrogen Indonesia kelak terbukti besar dan murah, pertanyaan berikutnya segera muncul: bagaimana membawanya dari reservoir menuju pusat konsumsi domestik dan dunia?
Di sanalah eksplorasi bertemu liquefaction. Liquefaction bertemu shipping. Shipping bertemu keselamatan. Keselamatan bertemu economics. Economics akhirnya bersentuhan dengan geopolitik dan kekuasaan.
Indonesia tidak datang tanpa modal. Kita memiliki industri energi, insinyur, pelabuhan, pasar domestik, geothermal, pengalaman upstream, dan bentang geologi yang menjanjikan.
Yang diperlukan bukan demam hidrogen. Kita memerlukan keberanian bereksperimen, kesabaran membaca geologi, disiplin engineering, serta ketegasan meninggalkan proyek yang tidak ekonomis.
Sebab masa depan energi tidak dimenangkan negara yang paling cepat mengumumkan mimpi. Ia dimenangkan mereka yang paling tekun mengubah kemungkinan menjadi kenyataan.
-000-
Florida, 16 Juli 1969. Saturn V berdiri menjulang di Kennedy Space Center. Liquid hydrogen menjadi bagian penting tenaga yang membawa Apollo 11 menuju Bulan.
Beberapa tahun sebelumnya, NASA menerbangkan AS-203 untuk memahami perilaku liquid hydrogen dalam microgravity, pengetahuan yang kemudian membantu mematangkan teknologi bagi program Apollo.
Ada puisi ganjil dalam sejarah teknologi. Cairan sedingin minus 253 derajat Celsius bertemu oksigen, lalu melahirkan api yang mengangkat manusia meninggalkan Bumi.
Lebih dari setengah abad kemudian, molekul yang membantu manusia mencapai dunia lain kembali dipanggil untuk sebuah misi yang mungkin jauh lebih menentukan.
Kali ini tujuannya bukan meninggalkan Bumi. Tantangannya adalah membantu peradaban memperoleh energi tanpa perlahan merusak satu-satunya rumah yang dimilikinya.
Duduk di Bangkok, mendengarkan para ahli berbicara tentang molekul, kapal, dan reservoir, pikiran saya justru melayang kepada anak-anak yang akan mewarisi planet ini.
Mereka mungkin kelak menganggap teknologi hari ini primitif. Tetapi setiap peradaban membutuhkan generasi yang bersedia membuka pintu menuju sesuatu yang belum sepenuhnya diketahui.
Suiso Frontier membuka tulisan ini dengan menyeberangi samudra. Apollo menutupnya dengan menyeberangi langit. Di antara keduanya terbentang perjalanan panjang imajinasi manusia.
Kita belum tahu apakah hidrogen akan menjadi samudra energi berikutnya. Tetapi sejarah mengajarkan bahwa samudra baru ditemukan oleh mereka yang berani berlayar.
Dahulu hidrogen membawa manusia meninggalkan Bumi menuju Bulan. Kini tantangannya lebih besar: membuat hidrogen membantu manusia tetap layak tinggal di Bumi.
(Di atas Chao Phraya River, Bangkok, 16 September 2026)
-000-
REFERENSI
Jeremy Rifkin, The Hydrogen Economy: The Creation of the Worldwide Energy Web and the Redistribution of Power on Earth. Polity Press, 2002.
Joseph J. Romm, The Hype About Hydrogen, Revised Edition: False Promises and Real Solutions in the Race to Save the Climate. Island Press, 2025.
Rubrik Khusus
Menghadiri Konferensi Gastech di Bangkok, 14–17 September 2026 (4)
15 Sep 2026
-
Sumber Foto: DennyJAWorld