Pengamat: Pasangan Pilpres Perlu Saling Melengkapi, Rekam Jejak Prestasi Jadi Pertimbangan Pemilih

Pengamat: Pasangan Pilpres Perlu Saling Melengkapi, Rekam Jejak Prestasi Jadi Pertimbangan Pemilih

Peneliti psikologi politik Universitas Indonesia, Dicky Pelupessy, menilai pasangan yang maju dalam Pemilihan Presiden 2024 perlu menunjukkan kecocokan agar dapat saling melengkapi. Ia menyebut aspek psikologis dan kepribadian pasangan calon akan berpengaruh besar terhadap pilihan masyarakat.

Menurut Dicky, masyarakat membutuhkan pemimpin yang memiliki prestasi sehingga dinilai mampu merealisasikan janji politik ketika terpilih. Dengan rekam jejak tersebut, kata dia, publik akan lebih percaya bahwa figur itu dapat membawa kemajuan Indonesia, baik dari sisi ekonomi maupun sosial.

“Masyarakat membutuhkan pemimpin yang tak sekadar memiliki motif berkuasa, tetapi memiliki prestasi yang dapat membawa Indonesia menjadi bangsa pemenang dan membangun ekonomi yang kuat. Pemimpin yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah yang mampu meninggalkan kepentingan pribadi dan golongannya,” ujar Dicky dalam keterangannya, Rabu, 11 Mei 2022.

Ia menilai gagasan memasangkan Prabowo Subianto dengan Puan Maharani kurang cocok. Dicky berpendapat rekam jejak Puan lebih banyak berada di tataran elite partai. Meski pernah menjabat di eksekutif sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), ia menilai masyarakat sulit menemukan prestasi Puan dan justru banyak kritik yang muncul saat Puan masih menjabat.

“Sampai saat ini belum ada rekam jejak prestasi yang ditorehkan Puan sehingga sosok Puan belum bisa menjadi sosok yang dapat melengkapi Prabowo. Sosok Prabowo yang sangat kuat di politik harus diimbangi dengan sosok yang memiliki prestasi,” kata Dicky.

Dicky membandingkan hal itu dengan pasangan Ganjar Pranowo dan Erick Thohir yang menurutnya lebih berpotensi saling melengkapi. Ia menyebut Ganjar membangun karier politik dari bawah hingga menjadi Gubernur Jawa Tengah, sementara Erick memulai karier sebagai pengusaha dan dinilai berhasil mengubah wajah BUMN melalui peningkatan kinerja yang signifikan.

“Ganjar-Erick merupakan kombinasi yang lebih lengkap dan dapat saling melengkapi. Dua tokoh ini punya latar belakang yang berbeda yang bisa mencerminkan politik murni dan pengusaha yang masuk ke dunia politik. Terlebih lagi prestasi yang dimiliki Erick lebih lengkap jika dibanding dengan Puan, baik sebagai pengusaha maupun sebagai Menteri BUMN,” ujarnya.

Sementara itu, Dicky menilai Prabowo dan Puan sama-sama memiliki modal politik yang kuat sehingga berisiko kurang saling melengkapi. Ia juga menyoroti kinerja DPR yang disebutnya rendah dan menjadi sorotan sebagian masyarakat, yang menurutnya dapat memengaruhi citra Puan.