Konsultasi dalam proses pemilihan disebut menjadi tahapan penting untuk memilih dan menominasikan kandidat anggota Majelis Nasional serta Dewan Rakyat di semua tingkatan. Di Provinsi Lai Chau, mekanisme ini dijalankan sebagai bagian dari proses demokratis yang melibatkan partisipasi organisasi sosial-politik dan pengawasan masyarakat, dengan Front Tanah Air di berbagai tingkatan berperan memimpin serta berkoordinasi dengan lembaga terkait.
Dalam pelaksanaannya, tahapan konsultasi mencakup kesepakatan mengenai struktur, komposisi, dan jumlah kandidat, hingga pengumpulan masukan pemilih di wilayah tempat tinggal mereka. Proses tersebut digambarkan berlangsung serius, sistematis, dan mengikuti ketentuan yang berlaku, dengan tujuan memastikan lembaga terpilih dapat menjadi saluran suara serta aspirasi masyarakat.
Struktur kandidat yang disusun juga disebut mencerminkan karakteristik Lai Chau sebagai provinsi pegunungan multietnis. Proporsi kandidat dari kelompok minoritas etnis dalam daftar calon Dewan Rakyat Provinsi mencapai 72,62%, dan lebih dari 71% pada tingkat komune. Sementara itu, proporsi perempuan hampir 37%.
Seorang pemilih, Vang Thi Soi dari Dusun Hop 1, Komune Khong Lao, menyatakan kegembiraannya terhadap komposisi tersebut. “Daftar kandidat mencakup banyak anggota kelompok etnis minoritas dan perempuan, yang membuat kami sangat senang, senang karena suara perempuan didengar dan dihormati,” ujarnya.
Setelah rangkaian konsultasi, daftar resmi calon anggota Majelis Nasional dan Dewan Rakyat di semua tingkatan diumumkan. Tahap berikutnya adalah kampanye pemilihan, yang dipahami sebagai ruang pertemuan langsung antara kandidat dan pemilih untuk membahas program aksi. Dalam forum ini, kandidat menyampaikan komitmen mereka, sementara pemilih dapat mengutarakan pandangan, kebutuhan, dan harapan.
Kepala Dusun Nam No 1, Komune Pa Tan, Tao A Sai, menyampaikan harapan agar wakil rakyat terpilih rutin turun ke tingkat akar rumput dan mendengarkan kesulitan masyarakat di daerah dataran tinggi. Ia menjelaskan desanya memiliki 52 rumah tangga dan seluruhnya berasal dari etnis Mang. Menurutnya, kondisi desa berangsur membaik, termasuk akses jalan, keamanan, dan ketertiban. Melalui pertemuan konsultasi pemilih, ia berharap wakil terpilih membantu pembangunan pusat kebudayaan baru karena bangunan lama yang terbuat dari kayu dinilai sempit dan telah rusak setelah digunakan bertahun-tahun.
Aspirasi serupa juga datang dari pemilih di wilayah pegunungan dan perbatasan, yang berharap perhatian lebih besar pada kebijakan pembangunan ekonomi, pengurangan kemiskinan berkelanjutan, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat etnis minoritas. Kepala Dusun Nam O, Komune Pa Tan, Ly A Lau, mengatakan desanya memiliki 71 rumah tangga yang mayoritas dihuni etnis Mang, Thai, dan Muong. Ia menilai program aksi yang dipaparkan kandidat cukup spesifik dan selaras dengan kondisi provinsi perbatasan pegunungan. “Kami berharap jika terpilih, para perwakilan akan terus lebih memperhatikan kebijakan pembangunan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan sehingga kehidupan masyarakat di daerah pegunungan akan semakin stabil dan sejahtera,” ujarnya.
Dalam pertemuan-pertemuan tersebut, para kandidat disebut menunjukkan tanggung jawab dan tekad untuk berkontribusi jika terpilih. Paparan program aksi dan dialog terbuka dinilai membantu pemilih memahami kemampuan, dedikasi, serta tanggung jawab setiap kandidat, sekaligus menjadi sarana membangun kepercayaan publik.
Pengalaman persiapan pemilihan di Lai Chau juga digambarkan menunjukkan keterpaduan antara hak masyarakat untuk berpartisipasi dan peran kepemimpinan Partai, dengan pengawasan berlapis serta keterlibatan Front Tanah Air dan warga. Proses konsultasi hingga pengumuman daftar kandidat disebut dilakukan sesuai ketentuan, terbuka, dan transparan.
Dalam pelaksanaan teknis, seluruh berkas pendaftaran kandidat disebut telah diterima dan diperbarui pada perangkat lunak sesuai persyaratan. Daftar resmi kandidat juga dipasang di semua tempat pemungutan suara agar pemilih dapat mempelajari dan menentukan pilihan.
Menjelang hari pemungutan suara, setiap suara dipandang sebagai ekspresi pilihan sekaligus harapan pemilih terhadap wakil yang dinilai layak mewakili kehendak dan aspirasi masyarakat di lembaga perwakilan. (Diperbarui 11 Maret 2026)

