Hoaks Ikut Mengiringi Ketegangan Iran-Israel, Ini Klaim yang Beredar di Media Sosial

Hoaks Ikut Mengiringi Ketegangan Iran-Israel, Ini Klaim yang Beredar di Media Sosial

Ketegangan dalam konflik Iran-Israel turut diiringi maraknya informasi keliru atau hoaks yang beredar di media sosial dan aplikasi percakapan. Masyarakat diimbau tetap waspada serta memverifikasi setiap informasi melalui sumber tepercaya, terutama di tengah derasnya propaganda yang menyertai isu konflik.

Situasi ini dinilai berpotensi memicu perang yang lebih besar di kawasan dengan konsekuensi global, termasuk kemungkinan lonjakan harga minyak dan penurunan pertumbuhan ekonomi dunia. Sejumlah klaim terkait konflik tersebut pun telah ditelusuri oleh Cek Fakta Liputan6.com.

Berikut beberapa klaim yang beredar:

1. Klaim video “Israel jadi lautan api”

Cek Fakta Liputan6.com menemukan unggahan di Facebook pada 3 Maret 2026 yang menyertakan klaim “Israel jadi lautan api”. Video yang beredar memperlihatkan sejumlah mobil berhenti di jalan, dengan langit tampak berwarna merah dan terlihat sejumlah titik terang.

Unggahan itu disertai narasi: “Apa ini. Yang di Namakan lautan Api. Israel jadi lautan api. Detik-detik dimana langit Isr4el mulai memerah, terdengar jelas suara wanita histeris! #Lautanapi #Israel #iran perang api”.

2. Klaim video upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei

Cek Fakta Liputan6.com juga mendapati klaim video yang disebut sebagai upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei. Klaim tersebut menyatakan Khamenei tewas dalam serangan yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat pada usia 86 tahun.

Informasi itu diunggah akun Facebook pada 2 Maret 2026. Dalam narasi unggahan, disebutkan Iran berkabung dan dunia “tercengang” atas kabar tersebut.

Video yang beredar memperlihatkan ribuan orang mengerumuni sebuah peti jenazah yang dibawa truk berlapis kaca atau transparan. Peti tersebut tampak ditutup kain berwarna kuning dengan sebuah logo. Kerumunan terlihat membawa bendera berwarna kuning dan mengikuti laju truk.

Masyarakat diimbau tidak mudah mempercayai konten yang beredar, terutama yang menampilkan video atau narasi dramatis terkait konflik, sebelum memastikan kebenarannya melalui pemeriksaan fakta dari sumber yang kredibel.